Senin, 30 Maret 2020

Genesis 07

MEDALI ZAMAN

Sang Perwira

Aku dan kamu, ada karena waktu. Waktu bukan sahabat yang baik namun bukan juga musuh yang jahat. Disaat dia Baik kita akan dipertemukan dan menikmati indahnya sebuah kebersamaan namun disaat kita berpisah waktu menjelma menjadi jahat...

Jalan Menuju Pelabuhan, Surabaya, Hindia Belanda, Tahun 1919, 11.00 AM....

Pelabuhan Zaman Dulu
(Sumber Ilustrasi : Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya tahun 1924 ; indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/2015/03/pelabuhan-tanjung-perak-surabaya-di.html?m=0)

Heroyan Kiba masih mengayuh sepeda ontelnya sambil memikirkan nasib wanita yang dikenalnya di bandara Toraja, Fezry. Roy tak sadar Setiap berpapasan dengan penduduk kebanyakan mereka memandang aneh busana yang dikenakannya. Namun demikian para penduduk yang kebanyakan masih berjalan tanpa menggunakan alas kaki memilih untuk menunduk dan memberi hormat karena mengira bahwa Roy adalah keturunan bangsawan atau setidaknya pegawai pemerintah Hindia Belanda yang pangkatnya tinggi.

Tanpa sadar putra dari Kolonel Riu ini diikuti oleh seseorang yang modelnya sperti penduduk biasa namun pada lengan kanannya terdapat tatto garis bengkok berwarna merah dan pada lehernya terbelit kain bermotif huruf M yang juga berwarna merah, sosok misterius ini sebenarnya telah mengikuti Roy sejak dari Hotel dan terus berjalan tanpa disadari keberadaannya. 

Walaupun berjalan kaki namun langkahnya cepat dan lincah, disaat Roy memperlambat laju sepedanya orang tersebut berjalan dari belakang dengan membaur dengan para penduduk, sementara itu jika Roy mempercepat laju sepeda orang tersebut mengambil jalan memotong di hutan yang sekalipun berisi pepohonan lebat namun mampu diatasi dengan gerakan memanjat dan melompat dari pohon ke pohon meniru binatang tupai. 

Tupai
(sumber Ilustrasi : bobo.grid.id/read/082006458/selain-burung-dan-
kelelawar-hewan-hewan-ini-juga-bisa-terbang-padahal-tidak-bersayap?page=all)

Menjelang mendekati pelabuhan, Roy kemudian merasakan ada yang tidak beres dengan perjalanannya. Dengan tenang Roy berhenti duduk disebuah warung nasi kecil yang sepi karena waktu belum menunjukkan makan siang. Sontak pemilik warung tersebut, bergegas menghampiri Roy dan bertanya apakah Roy ingin makan, namun Roy menggeleng dan menjelaskan dia hanya ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke pelabuhan yang sudah kelihatan dalam jarak beberapa kilometer lagi. 

"Maaf Tuan, kalau boleh tau nama tuan siapa dan asal tuan darimana ?"

"Saya dari luar kota, dapat tugas dari majikan saya untuk ke pelabuhan ini" jawab Roy sambil tersenyum

"ohh, kalau boleh tau tuan ini namanya siapa ?" tanya sang pemilik warung

"Nama Saya Roja"

"Ohh, Tuan Roja dari Batavia (Jakarta) yah ? karna mirip dengan nama Rojali teman saya sesama petani"

"Hehehe, kebetulan sekali ya. Kalau nama bapak siapa ?"

"Nama saya, Marhaen Tuan, saya masih muda dan masih lajang jadi agak tua jika saya dipanggil bapak" 

"Oh iya Marhaen, apakah disini ada menyediakan kopi ? Kebetulan saya lelah dan perlu minum secangkir kopi" dalam hati Roy tak tega melihat sang pemilik warung yang walaupun masih muda namun tubuhnya tidak segemuk dirinya, efek kerja keras mungkin kata Roy dalam hatinya.

"Ohh ada Tuan, tuan beruntung saya masih punya sedikit kopi yang kami pungut di kebun kopi." Kata-kata dipungut tentu saja membuat Roy mengerutkan kening dan bertanya-tanya. Sebab setahunya dari zaman sebelumnya kopi selamanya dipetik dan tidak dipungut seperti memungut kelapa, bahkan dizamannya Kopi dipanen oleh robot khusus mini drone yang bertugas untuk memetik kopi. 

Robot Pekerja Masa Depan
(Sumber Ilustrasi : banten88.com/detail/jutaan-pemetik-
teh-terancam-digantikan-robot/)

"Maksudnya, kopinya dipungut bagaimana yah" tanpa sadar Roy bertanya. Hal tersebut membuat sang pemilik warung tersenyum penuh arti.

"mungkin Tuan lama berada diluar Hindia Belanda, inilah nasib kami sebagai rakyat kecil disini tuan. Kami lahir di tanah kami sendiri namun kami tidak pernah menikmati apa yang menjadi hak kami dinegeri ini" 

"Kami merindukan saat-saat dimana kami bisa menikmati setiap biji kopi yang kami petik di kebun kami sendiri, kami juga rindu melihat mereka yang memerintah di Surabaya ini adalah orang yang sama dengan golongan kami, tapi entah kapan hal tersebut terjadi, sekarang harga kopi sangat tinggi dikalangan para pedagang kopi, namun kami para pemetik di kebun kopi dibayar sangat murah dan tidak diberikan makanan yang cukup padahal kami bekerja kadang dari pagi hingga malam" 

wajah Marhaen menjadi sendu dan terlihat tak bersemangat, sekalipun begitu kopi yang telah diraciknya sekarang telah berada dihadapan Roy dan siap untuk dinikmati.

"terima kasih Marhaen" Roy kemudian menikmati kopi hitam yang disediakan oleh pemilik warung. 

sambil menemani Roy meminum kopi Marhaen kembali bercerita bahwa dia sebenarnya adalah pekerja pemetik kopi di kebun seorang saudagar Belanda yang lebih sering dia sebut tuan besar sementara warung tersebut adalah usaha dari ibunya yang sekarang sedang sakit-sakitan namun karena biaya obat mahal maka ibunya hanya dirawat dirumah saja oleh adik Marhaen. Keinginan dari Marhaen sebenarnya adalah dia ingin menggarap sawah peninggalan ayahnya namun karena dia tidak memiliki cukup uang untuk membeli alat pertanian maka sawah tersebut dibiarkan tebengkalai. 

Warga Zaman Dulu
(Sumber Ilustrasi : indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com
/2013/11/warga-desa-jawa-1919.html?m=0)

Dan sebuah kekuatiran dari Marhaen adalah disaat pelabuhan Surabaya rampung di renovasi maka tentu saja warungnya disitu tidak akan diberi izin lagi oleh pemerintah untuk berjualan dikarenakan jalan kepelabuhan akan dibuat lebar sehingga dapat dilalui oleh angkutan barang ataupun angkutan militer Pemerintah.

Roy tak banyak berkomentar tentang cerita dari rakyat jelata tersebut. Dalam hati dia sebenarnya ingin sekali berkata bahwa tanggal 17 Agustus 1945 negara Hindia Belanda akan Merdeka dan menjadi Negara Indonesia namun tentu saja dia tidak boleh membicarakannya, mengingat hal tersebut akan mengacaukan sejarah. 

"oh iya Marhaen, tadi maksud dari dipungut di kebun kopi itu maksudnya apa ?" tanya Roy mengalihkan pembicaraan

"yang tuan Roja minum adalah kopi yang berasal dari perut musang, karena kami tidak boleh mengambil kopi di kebun tuan besar tapi tuan besar bolehkan kami mengambil kopi kotoran dari musang. 

Setelah kami bersihkan dan kami racik ternyata kopi tersebut tidak jauh beda dengan kopi yang selama ini diminum oleh tuan besar. Dan kopi tersebut adalah kopi yang terakhir yang saya miliki untuk dijual" kata Marhaen sambil tersenyum 

Dalam hal ini jika Marhaen tersenyum maka Roy sebaliknya, hampir saja dia menyemburkan kopi yang diminumnya begitu tahu bahwa kopi tersebut berasal dari kotoran musang. Dan untuk menutupi rasa canggungnya Roy bergegas menghabiskan kopi tersebut dan bermaksud untuk membayar.
   
"berapa harganya ?" 

"itu gratis untuk tuan"

"tidak, saya tidak mau gratis"

"tapi saya ikhlas tuan Roja"

"Marhaen, ini bayaran kopinya semoga bisa membantu dalam usaha anda"

Roy menyerahkan beberapa lembar uang Hindia Belanda kepada Marhaen,

"Tuan Roja ini banyak sekali, nanti keluarga saya curiga saya sudah mengambil uang tuan besar" 

"katakan bahwa saya yang memberikan uang ini kepada anda, anggaplah itu sebagai jawaban Tuhan atas kerja keras kamu Marhaen" paksa Roy

"Terima kasih banyak Tuan Roja, Alhamdulilah, Tuan Roja hampir mirip dengan Pak Tjokro, orangnya baik dan suka menolong"

"sama-sama Marhaen, saya permisi dulu" Roy bergegas meninggalkan warung tersebut begitu mendengar kata Tjokro, apalagi pada saat itu melintas tiga petugas Polisi yang dua orang adalah penduduk asli atau pribumi dan yang satunya adalah asli keturunan Belanda.

Roy mengambil sepedanya dan bermaksud untuk segera menuju ke pelabuhan, namun sepertinya nasib baik tak berpihak kepada Roy.

Melihat penampilan dari Roy yang berbaju gaya eropa namun berada di warung rakyat biasa mengundang kecurigaan dari Polisi Belanda yang berbadan gemuk dengan kumis yang tebal serta membawa pistol dan tongkat besi. Sementara polisi pribumi hanya membawa sangkur dan tongkat kayu sebagai senjatanya.

Dengan tongkat ditangannya sng komandan kemudian mengetok kepala salah seorang polisi pribumi meminta untuk membawa Roy kehadapannya.

Melihat hal yang tidak baik akan menimpa tuan penolongnya, Marhaen bergegas menghampiri kedua petugas yang mendatangi Roy dan menawarkan makan siang gratis agar mereka melupakan tujuan mereka untuk sesaat, namun kedua petugas tersebut lebih patuh kepada komandannya yang berkumis tebal ketimbang makanan gratis segera saja mereka berdua mendorong Marhaen agar tidak menghalangi jalan keduanya, tak menyerah dengan perilaku dari petugas polisi tersebut Marhaen kembali menghampiri petugas tersebut dengan berusaha seramah mungkin menawarkan makanan gratis kali ini makanan gratis selama seminggu di warungnya, namun lagi-lagi dorongan kasar yang diterima oleh Marhaen yang kali ini menyebabkan dia tersungkur ke tanah yang berdebu. Hal tersebut tentu saja membuat Roy menjadi terkejut dan berniat untuk menolong Marhaen, namun petugas tersebut telah dahulu menghampiri dan menahannya, kemudian dengan paksa dia dibawa ke hadapan sang komandan berkumis tebal yang telah siap dengan pistol revolver M91 ditangan.

Revolver M91
(Sumber Ilustrasi : museummiliterku.blogspot.com
/2017/10/voorschrift-betreffende-de-revolver.html)

"siapa kamu, dan dari mana asalmu ? kenapa pakaian kamu mirip orang Eropa tapi duduk minum-minum di warung inlander miskin dan kurus seperti dia ?" tanya sang komandan polisi

"saya mau ke pelabuhan Pak Polisi, saya mau survey pembangunan disana. Tadi saya haus naik sepeda dan saya istirahat di warung ini karna saya sudah lelah sekali dan hanya ada warung ini di dekat pelabuhan" kata Roy menjelaskan.

"siapa yang menyuruh kamu kesini ? kamu tahu ini adalah proyek militer pemerintah jadi tidak boleh ada yang sembarangan masuk ke pelabuhan sekarang ?" 

"saya diminta oleh Tuan Hanz orang proyek disini untuk datang, Pak Polisi. Jadi saya datang dan bermaksud untuk menenjau lokasi pembangunan di pelabuhan ini" Roy menjawab seadanya karena dia berpikir tak ada gunanya berbohong.

Mendengar nama Hanz sang polisi terkejut namun tak percaya, malah dia berkata "Tuan Hanz tidak pernah memiliki konsultan seperti kamu, kamu pasti mata-mata dari pemberontak Surabaya yang bertugas untuk mengagalkan pembangunan pelabuhan ini kan ?"

"tidak Pak Polisi, nama saya Roja dan saya ini.."

"Cukup, bawa dia ke kantor sekarang, nanti kita akan serahkan dia ke dinas Polisi Rahasia Kerajaan untuk dihukum mati" kata komandan polisi tersebut dengan sengit

"Tuan Polisi tolong lepaskan dia, dia ini orang dari sini, saya yang salah Pak Polisi karena saya yang memanggil dia untuk mampir di warung saya" Marhaen datang dan bermohon sambil berlutut dihadapan Polisi Hindia Belanda yang terlihat angkuh tersebut.

"sudah Marhaen, tidak usah membelaku tolong jangan sampai kamu tertimpa kesusahan lagi ingat ibumu kawan" Roy tak bisa melakukan apa-apa kecuali mencegah Marhaen untuk tidak mendapat perlakuan kasar dari Polisi kesekian kalinya. Perkataan tersebut membuat Marhaen menunduk sedih dan berkata "maaf tuan Roy, semoga kita bisa bertemu lagi"

Kedua polisi pribumi tersebut kemudian menggiring Roy ke kantor mereka yang agak jauh dari warung Marhaen, sementara sepedanya dibawa oleh sang komandannya yang dengan santai mengayuh sepeda tersebut hingga jauh meninggalkan mereka berdua, untungnya jalan yang mereka lalui adalah jalan yang rindang dengan pepohonan karena masih termasuk di kawasan hutan, setelah beberapa menit berjalan tampak dibawah sebuah pohon seorang dengan seragam mirip sang komandan berkumis menunggu dengan menenteng sepeda Roy, hal tersebut merupakan hal yang mengherankan bagi kedua polisi pribumi karena mereka belum pernah melihat sosok seperti itu, yang lebih mengherankan lagi komandan polisi tersebut adalah orang pribumi hal tersebut sangat jarang dijumpai di Hindia Belanda karena yang dapat menjadi komandan Polisi kebanyakan adalah orang Belanda. 

"Selamat siang, saya perwira dari dinas Polisi Rahasia Kerajaan mau mengambil orang ini untuk diinterogasi serahkan dia kepada saya sekarang" kata orang tersebut

"Maaf Perwira, tapi perintah dari komandan kami adalah membawa dia dulu ke kantor kemudian dia akan segera diserahkan ke bagian Polisi Rahasia Kerajaan untuk dihukum mati karena dia mata-mata" kata salah seorang polisi pribumi sambil memberi hormat karena melihat pangkat perwira yang ada di baju orang tersebut

"Komandan kalian tadi sudah saya beritahu dan dia sudah kembali ke kantornya, kalian bisa kembali kesana dengan nyaman tapi harus menyerahkan dia dulu kepada saya untuk saya bawa langsung ke kantor Polisi Rahasia" kata sang perwira

"maaf tapi kami harus mengikuti perintah komandan kami, izinkan kami lewat Mneer" sang polisi pribumi benar-benar berani menentang perwira di depannya dengan tegas, penolakan itu tak membuat sang perwira menjadi naik darah dan dia tetap tenang tanpa adanya ekspresi di wajahnya. Malah sang Perwira memberikan jalan kepada kedua polisi tersebut dan mengikutinya dari belakang.

Mendengar kata Polisi Rahasia, Roy memahami perwira yang dihadapinya adalah seorang agen intelijen yang setara dengan agen rahasia, CIA dari Amerika dan KGB dari Rusia sebagai contohnya.

Roy yang sempat belajar tentang intelijen selama dia pendidikan militer dan sering bertukar pikiran dengan sahabatnya dari CIA, merasa ada yang aneh dengan perwira intelijen tersebut. Mengapa seorang perwira intelijen terang-terangan menyebutkan identitasnya kepada aparat biasa dan kenapa harus ada penyerahan tahanan di tempat yang umum, biasanya cara kerja intelijen kebanyakan diusahakan ditutupi agar tidak diketahui banyak orang. Dan lagi ada yang aneh dengan pakaian dari sang perwira,  pakaian tersebut agak kebesaran dan sangat mirip dengan ukuran dari komandan berkumis yang menjadi atasan dari kedua orang polisi pribumi.

Namun tak ada sempat bagi Roy untuk berpikir lama karena dia merasa bingung bagaimana meloloskan diri dari kantor polisi Hindia Belanda, apakah dia harus menyogok Polisi lagi ataukah dia harus melakukan perlawanan sehingga dia bisa kembali ke hutan X untuk bersembunyi. 

Sementara Roy digiring ke Kantor Polisi tiba-tiba kedua polisi tersebut menjadi lemas dan tumbang disisi jalan, Roy terkejut bukan main sehingga dia juga jatuh terduduk disebelah kedua polisi yang tak sadarkan diri.

"maaf kawan, tapi sepertinya kamu juga harus tertidur" sang perwira berkata demikian sambil menempelkan setangkai bunga dihidung Roy yang dalam sekejap tak sadarkan diri


13.00 PM, Disuatu tempat yang rahasia

Byurr....

Air dingin menerpa wajah Roy yang membuatnya sadar dari tidur yang tidak dikehendakinya.

"ayo bangun" 

"apa yang kamu lakukan di zaman ini ? AYO JAWAB !!"

"apa kode mesinmu dan apa tujuanmu kemari ?"

Roy yang masih setengah sadar menjadi sadar sepenuhnya karena mendengar pertanyaan tersebut, sesaat dia mendapatkan dirinya berada didalam sebuah kotak kerangkeng (kurungan) yang berjeruji besi dan tak jauh darinya berdiri perwira Polisi Rahasia yang membawa ember yang airnya tadi disiramkan ke wajah Roy.

"apa maksud anda, saya adalah Roja konsultan dari Tuan Hanz pemimpin pembangunan pelabuhan Surabaya" jawab Roy yang tetap terduduk didalam kerangkeng

"jangan bohong, kamu adalah Sersan Heroyan Kiba, Anggota Corps IPGK. dari Abad 30. Apakah ada yang salah dari tebakan saya ?" kata sang Perwira sambil tersenyum dan membuat Roy menjadi sangat terkejut

"seharusnya kamu sudah mati Roy, tapi kamu hebat mampu bertahan di Batas Waktu dan yang membuatku kagum adalah kamu bisa lolos dari Badai Waktu. Badai Waktu adalah binatang buas yang sudah kenyang dengan korban dari hasil ciptaanku, namun kamu mampu mengecohnya dan masuk ke zaman ini. Dan kebetulan zaman ini adalah zaman tempatku untuk beristirahat setelah aku pulang bekerja dari Abad 30 namun ternyata ada seseorang yang ikut dan mengganggu istirahatku di abad ini" ...

"sekarang katakan kepadaku Roy, apa tujuanmu kemari ?" kata sang Perwira tersebut sambil menghunus pedang dan menunjukkan ke arah dada Roy yang saat itu masih sangat terkejut dengan terbongkarnya identitas dirinya.

"a-aku tersesat, a-ku tidak mau datang ke zaman ini, tolong bantulah aku kembali ke Abad 30"

"lalu dari mana kamu dapat peralatan yang canggih dan modern seperti ini ? aku tahu Abad 30 adalah abad yang canggih namun tak sembarang orang yang mampu untuk membuat alat yang kamu gunakan kecuali mereka adalah penjelajah waktu yang sudah profesional. Katakan padaku siapa yang membantumu datang ke abad ini ?" 

"aku tak tahu, aku tak sadarkan diri selama badai waktu nyaris membunuhku. Aku sudah berada disebuah hutan ketika aku sadar dan benda-benda itu sudah ada disampingku lengkap dengan petunjuk penggunaannya" Roy berusaha menutupi siapa yang telah menolongnya karna dalam pikiran Roy kemungkinan sang Perwira adalah penjahat waktu (Penjahat Waktu = pelaku tindakan kriminal yang pergi ke masa lalu atau masa depan untuk mencuri barang-barang di masa itu dan kemudian menjualnya di masanya). 

"Jangan berbohong Roy, pasti kamu menyembunyikan sesuatu, katakan SIAPA yang menolongmu menghindari badai waktu ?"

"kamu siapa dan apa tujuanmu menginterogasiku seperti seorang penjahat ? apa kamu adalah penjelajah waktu ?" Roy akhirnya dengan berani menantang interogatornya.mendengar hal tersebut sang Perwira kemudian tersenyum,

"Oh iya, perkenalkan namaku Alom (40). Aku adalah anggota dari pasukan Black Marsose, pasukan khusus yang ada sejak zaman Hindia Belanda yang ditugaskan untuk menghancurkan musuh pemerintah dengan cara kami sendiri"

"apa hubungannya marsose dan penjelajahan waktu ?" tanya Roy kepada sang perwira yang bernama Alom tersebut mendengar hal itu Alom tersenyum kemudian mengambil kunci dari meja diruangan tersebut untuk membuka kunci kerangkeng yang mengurung Roy.

"hei, rasa ingin taumu sangat besar. Dari pertanyaan yang kau sampaikan aku tau dimasa yang akan datang kamu akan menjadi apa"

"namun ingat Roy, rasa penasaran yang besar itulah yang bisa menjerumuskanmu" kata Alom sambil menarik Roy dari dalam kerangkeng 

"apa maksudmu ?" Roy makin heran dengan pernyataan dari Alom

"mari duduk, kita minum dan rencanakan masa depan bumi ini bersama"

Roy hanya menurut ketika Alom mempersilahkannya duduk dikursi yang telah disediakan, namun tidak paham dengan  maksud Alom tentang merencanakan masa depan bumi bersama

"silahkan Roy, ini adalah minuman anggur merah yang sangat disukai oleh Pemerintah Hindia Belanda saat ini


(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar