MEDALI ZAMAN
Masa Lalu Penentu Waktu
Sudah menjadi Hukumnya apa yang dilalui hari ini adalah sejarah untuk kita, sejarah itu adalah masa lalu....
Tana Toraja, Indonesia, Abad 30, 3 jam setelah serangan peluru kendali.
Smart V-Tol atau Pesawat Pintar V-Tol Divisi Kesehatan tampak ramai beterbangan dan masing-masing menaikkan muatan korban jiwa dari serangan peluru kendali AP 1000, dan disana sini lalu lalang robot cerdas LabFor untuk mengambil sampel dari kejadian guna kepentingan investigasi. Dimasa depan Pemerintah lebih memanfaatkan kecerdasan robot untuk menangani berbagai macam hal. Mulai dari hal tentang kesehatan dan juga tentang investigasi.
Smart V-Tol yang berisi robot cerdas LabFor
(Sumber Ilustrasi : id.pinterest.com/pin/278238083202821856/)
Sementara itu diruang komando investigasi tampak seseorang dari Penanggulangan Serangan Teroris Global sedang melaporkan kejadian yang menimpa bandara Tana Toraja kepada atasannya di Ibu Kota Indonesia,
"kami menunggu laporan anda selanjutnya Kapten Raka, terus lakukan penyelidikan siapa yang menembakkan peluru AP 1000 ke TKP dan apakah mereka Teroris atau bukan. Selidiki apakah kasus penembakan ini ada hubungannya dengan Tim dari Amerika yang menamakan diri mereka tim ekspedisi Timur. Selama ini Tana Toraja adalah tempat yang paling aman namun sejak kedatangan orang-orang asing ini seolah-olah mereka membawa sesuatu yang akan membahayakan kedaulatan kita"
"Siap Laksanakan Jenderal, saya akan terus melakukan penyelidikan sesuai dengan perintah anda" sahut Kapten Raka meyakinkan pimpinannya
"Dan ingat Kapten, jika para teroris tidak bisa diajak kerjasama, lakukan prosedur seperti yang ada dalam panduan operasi kita, Mengerti ?"
"Mengerti Pak..." Kapten Raka memberi hormat ala militer kepada hologram komandannya yang seperti sedang berhadapan secara langsung. Sesaat setelah sang kolonel membalas hormat dari Raka maka tampilan hologram tersebut menghilang dengan sendirinya.
Pesan dalam Bentuk Hologram
(Sumber Ilustrasi : ak8.picdn.net)
Kapten Raka menghela nafas, dan memandangi video 3 dimensi anak dan istrinya yang berada jauh di pulau Jawa, "aku kangen kalian" bisik Raka.
sementara itu diatas meja kerjanya tampak selembar kulit kerbau yang berisi tulisan dalam bahasa Toraja, hal baru yang ditemukannya beberapa hari sebelumnya di lokasi yang disebut titik NOL, tak ada samasekali dalam pikiran Kapten dari Tim Anti Teror Indonesia tersebut bahwa apa yang ditemukannya adalah sebuah benda sejarah yang dibutuhkan oleh tim ekspedisi Timur Corps IPGK. Benda tersebut adalah kalimat petunjuk tentang keberadaan dari Medali Zaman..
disebelah dari benda bersejarah tersebut, tampak foto para terduga teroris yang ditangkap sesaat setelah serangan berkat radar detektor yang mampu melacak arah serta pelaku penyerangan. Radar detektor sebenarnya sudah lama berada di bandara Toraja namun dirahasikan oleh pengelola yang terbukti ampuh mengecoh pelaku teror. Hal tersebut membuat para perwira tingggi antiteror di Palangkaraya, Ibukota Indonesia memerintahkan agar Kapten Raka menginvestigasi dan membujuk mereka untuk bekerjasama dalam mengungkap siapa sebenarnya otak dari serangan tersebut.
Kapten Raka kemudian mengambil dokumen foto penangkapan teroris dan bergegas ke ruang komando investigasi. Didalam ruang komando Investigasi terdiri dari 3 ruangan, ruangan yang pertama adalah ruangan untuk meneliti serta mengambil kesimpulan dari sebuah investigasi, ruangan kedua adalah ruangan pengamatan dan yang ketiga adalah ruangan interogasi. Ruangan interogasi seperti yang terlihat difilm-film memiliki kaca satu arah yang hanya dapat dilihat oleh tim investigasi dari ruangan pengamatan. Ada 3 orang terduga teroris yang akan diinterogasi satu persatu, Yang pertama mengaku bernama Akles (30) yang mengklaim adalah pemimpin dari serangan, yang kedua Yoker (25) operator, dan yang terakhir adalah Randen (35) spesialis penembak jitu. Ketiganya telah ditahan dengan penjagaan ketat dari Detasemen Khusus antiteror gabungan Kepolisian dan TNI.
Penjaga ruangan memberi hormat kepada Raka begitu akan memasuki ruangan investigasi, didalamnya telah ada Akles yang dalam posisi terikat dengan wajahnya terlihat beberapa luka akibat interogasi keras dari tim integrator sebelumnya, hal yang sebenarnya tidak disukai oleh Kapten Raka karena dengan investigasi tersebut akan membuat para teroris semakin yakin dengan kebenaran perbuatannya.
"Halo Akles..."
Kapten Raka mulai menginterogasi Akles yang mantan anggota pasukan khusus Indonesia, sementara para tim forensik dan antiteror mengamati dari cermin dua arah di ruangan investigasi. setelah itu 1 jam kemudian adalah giliran Yoker dan Randen.
"masih tetap seperti dulu ya Raka, tetap rapi dan punya jiwa petualang"
Akles memandang Raka yang duduk dihadapannya tampak berwibawa namun berkelas dengan rambut disisir rapi dan berkilau karena pengaruh pomade.
"yah, apakah kamu ingat kita dulu pernah sama-sama memiliki janji untuk menjaga rakyat negeri ini ?" Raka memandang tajam Akles
"apa yang terjadi pada dirimu Sersan Akles ?" lanjut Raka yang ternyata adalah sahabat Akles pada saat mereka bertemu di pendidikan komando
"saya bukan Sersan Akles, Pak Integrator Raka. Dan saya bukan pelindung rakyat negeri ini. Saya adalah pelindung dari Raja Abad, dan saya akan menjadi Junta Penguasa zaman abad 20.." Akles berbicara dengan suara bergetar, membuat Raka tampak mengerutkan keningnya.
"Junta Penguasa Abad 20 ? apa maksud kamu Akles ?"
"ya Raka, sang Raja Abadi mengirimkan pesan tersebut kepada kalian jika kami tertangkap, jangan menyesal kalau keluargamu aku lenyapkan dari sejarah pada saat aku menjadi penguasa di Abad 20 silam"
Buaggh...!! tinju keras dari Raka yang menjadi emosi karna keluarganya disebut-sebut membuat tubuh akles terdorong hingga jatuh ke lantai dalam keadaan terikat, namun bukannya merasa kesakitan Akles justru tertawa mengejek dan sambil kembali mengulangi kata-katanya. Hal tersebut membuat emosi Raka semakin memuncak dan menarik tubuh Akles hingga kembali terduduk di kursi interogasi.
"ingat Akles, engkau dululah yang menolongku disaat kita tersesat di Lembah Hitam gunung Merapi dan aku hargai itu tanpa kamu aku tidak akan ada sekarang, tapi aku tidak akan membiarkan kamu untuk mencelakai keluargaku, INGAT ITU AKLES !!!" teriak Raka hingga mengagetkan tim Forensik dan antiteror yang berada diruangan kaca dua arah.
Gunung Merapi
(Sumber Ilustrasi : geomagz.geologi.esdm.go.id/harmoni-merapi/)
Bukan hanya berteriak namun Raka tampak mencabut pistolnya dan mengarahkan ke kening Akles sehingga membuat semua yang menyaksikan menjadi terkejut.
"kamu ingat pada saat pelajaran tentang interogasi kita Akles, pada saat itu kita berdiskusi dan engkau memberikan pesan padaku jika kamu menjadi teroris dan membahayakan Rakyat Indonesia maka aku punya hak untuk membunuhmu. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat yahh.." Raka tersenyum mengejek dengan senjata yang sudah siap menjebol batok kepala Akles.
"Kapten, tahan...."
"Mereka belum saatnya dieksekusi mati"
"mereka ada dibawa pengawasanku langsung, dan hidup matinya biarkan negara yang menentukan !! simpan kembali senjatamu parjurit"
terdengar suara yang memerintahkan Raka untuk membatalkan niatnya menghabisi Akles.
"Siap, Mayor Yonner" Kapten Raka yang mengenali suara tersebut berbalik dan memberi hormat kepada perwira yang tiba-tiba hadir di ruangan tersebut, tampak Kolonel Riu dari Tim Ekspedisi Timur menemaninya.
Sebelumnya Kolonel Riu telah mengerahkan Tim Ekspedisi Timur untuk mencari Roy yang diduga berada di dekat lokasi ledakan tersebut, sambil menunggu laporan dari anak buahnya Riu diajak oleh Mayor Yonner untuk menginterogasi pelaku yang tertangkap.
"maaf Mayor, saya terbawa emosi, saya tidak terima para teroris ini membawa-bawa keluarga saya dalam masalah ini" terang Raka
"setiap manusia pasti memiliki rasa amarah Kapten, namun alangkah baiknya jika amarah tersebut mampu dibendung untuk menghindarkan kita dari masalah di hari esok" timpal Yonner sambil memandang ke arah Akles
"siap Mayor..." Raka menunduk menandakan dia paham
"Terima kasih Mayor telah menolong saya, namunpun begitu saya tetap tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Indonesia..."
kata-kata penuh kesombongan yang keluar dari mulut Akles membuat Raka dan Yonner menengok dengan tajam kearahnya, sementara itu Riu terkejut melihat wajah Akles yang walaupun terluka dapat dia kenali dengan jelas.
"kamu Akles, aku kenal kamu, nama sandi kamu : Black Mountain kan ? Apa yang terjadi denganmu Black ?" Riu kemudian mendekati Akles yang terkejut dengan kehadiran Riu.
Wajah kuatir dan gugup tampak dimata Akles sehingga memancing reaksi dari Yonner dan Raka.
"oh maaf, kenalkan Kapten, ini adalah Kolonel Riu, pimpinan dari Tim Ekspedisi Timur"
Yonner memperkenalkan Riu ke Raka
"Kolonel, kalian kenal teroris ini darimana ? apakah dia pernah bertemu anda di Amerika ?" Tanya Yonner
"Tidak, dia tidak pernah ke Amerika. Namun kami pernah bertemu 3 tahun lalu saat Pemerintah Indonesia, Rusia, Amerika, dan Australia mengadakan operasi militer rahasia di Samudera Indonesia. Saat itu pesawat induk kemanusiaan tenaga nuklir yang membawa bantuan untuk korban bencana alam di pulau bagian utara Australia, dibajak dan awak kapal tersebut merupakan warga dari keempat negara yang melakukan operasi militer ini, Operasi pembebasan tersebut diberi nama Operasi Freedom" Riu menerangkan panjang lebar
Pesawat Induk
(Sumber Ilustrasi : id.pinterest.com/pin/44050902584310961/)
"Wah, di Operasi Freedom operasi militer yang sangat rahasia namun membuat kami di BIN kagum dengan timnya jadi kamu adalah salah satu penentu kebebasan para awak Indonesia ?" tanya Yonner kepada Akles,
"Kamu hebat, namun kenapa kamu menjadi teroris di negara ini ?" tambah Raka
"Maaf Kapten, maaf Sersan, dia memang dari Pasukan Operasi Freedom tapi dia telah menjadi yang dicurigai menjadi otak dari pembajakan tersebut.." Riu memotong pembicaraan kedua aparat Indonesia tersebut,
"Apa..? jadi maksud Kolonel, dia adalah...."
Yonner tak bisa meneruskan kata-katanya lagi, sementara Raka merasakan kebingungan yang sangat dalam jadi dia tak dapat berkata-kata lagi.
"Ya, dia adalah salah satu yang dicurigai menjadi otak dari Pembajakan Pesawat Induk tersebut, namun atas campur tangan dari seorang perwira Intelijen di Amerika nama Akles dihapus dari daftar yang dicurigai. Black Mountain dan beberapa pasukan komando Indonesia awalnya ditugaskan untuk menyusup masuk di sektor X dari pesawat Induk tersebut, namun setelah kami berkumpul dan berhasil menyelesaikan misi, pasukan yang ada dibawah pimpinannya dilaporkan tewas dan hilang hanya dia yang selamat. Dari pengakuannya sendiri dia mengatakan bahwa mereka dijebak oleh pasukan pembajak, namun ada kejanggalan dari keterangannya." kata Riu menerangkan siapa sebenarnya Akles atau Black Mountain.
"Kolonel, seharusnya waktu itu saya menghabisi nyawa anda. Anda bertiga sekarang adalah manusia lemah yang ditargetkan untuk dilenyapkan dari yang mulia Raja Abadi, sang pemimpin segala zaman.." kata Akles sambil tersenyum mengejek ketiganya.
Bugh..! Bugh..! Bugghh...! kali ini Yonner yang menjadi emosi dan melayangkan pukulan tiga kali ke wajah sang teroris. Hal tersebut menjadikan wajahnya semakin lebam dan mengeluarkan banyak darah.
Tapi bukannya meringis kesakitan, Akles malah tertawa dan mengejek,
"hajar aku sesuka hati kalian, tapi ingatlah diriku jika kalian sudah terikat dikursi kematian kalian masing-masing, Hahaha..."
"cukup, hentikan ocehanmu itu Teroris," Raka kembali menodongkan pistol di kepala Akles namun segera diangkatnya pistol tersebut karena Kolonel Riu memintanya.
"hah, inilah aparat hukum. Beraninya hanya kepada orang yang terikat, ayo hajar lagi, tunjukkan kalau kalian aparat hukum yang pantas naik pangkat hanya karna memukuli seorang teroris, Hahahahaha"...
"Black Mountain, apa maksud dari perbuatanmu ini ? apa kamu inginkan dengan meneror Bandara di Toraja ? dan apa tujuanmu merusak kedamaian di Indonesia ?" Riu mendekatkan kepalanya kepada Akles.
"Bukan urusanmu kolonel, apa hak anda menanyakan hal tersebut ? ini negara Indonesia, bukan Amerika Serikat, jangan menjadi jagoan di negeri orang kolonel"
"ini adalah tempat kelahiran nenek moyang saya, jadi saya juga berhak melindunginya. Saya memang warga Amerika anggota IPGK, yang ditugaskan kesini untuk meneliti sesuatu di kampung halamanku, kenapa justru kamu yang ada di tempat ini sekarang ? Apa rencana kamu disini Black ? Apa kamu ada hubungannya dengan apa yang kami selidiki disini ? "
sontak perkataan dari Riu membuat Black atau Akles menjadi gusar, dan hal tersebut terbaca oleh Yonner serta Raka. Raka sangat yakin serangan ini dan Titik NOL saling berhubungan yang menjadi teka teki harus dipecahkan dengan cepat sebelum keadaan menjadi lebih buruk.
"Kolonel, apa sebenarnya yang membuat anda datang kemari ? apakah ada sesuatu hal yang besar di Toraja sehingga menarik perhatian dari negara sebesar Amerika Serikat untuk mengirimkan pasukannya kemari ?" tanya Yonner
"Kami bukan pasukan dari pemerintah Amerika Mayor Yonner, kami adalah pasukan dari sebuah lembaga perdamaian yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, hanya markas kami berada di Amerika Serikat dan kami bergerak di bidang penyelidikan benda purbakala untuk perdamaian dunia. Kami dibentuk untuk menangani pencurian dan penyalahgunaan benda purbakala yang mengandung unsur mistik. Seperti yang kita tau bahwa akhir-akhir ini dunia banyak dikejutkan dengan beberapa benda purbakala yang dapat digunakan untuk mengutak atik alam semesta."
"apakah maksud Kolonel Riu benda purbakala seperti temuan ilmuan Indonesia di borobudur yang menjadi kode password Dana Revolusi Bung Karno ?" tanya Raka
Ilustrasi Dana Revolusi
(Sumber Ilustrasi : liputnusantara.blogspot.com/2016/01/lentak-dana-revolusi-soekarno-terlacak.html)
"ya betul sekali Kapten, Kami menyebutnya Kode Borobudur dan itu cukup mengejutkan dunia. karena dengan Dana Revolusi tersebut Indonesia menjadi pemimpin negara maju nomor satu di Asia. Bahkan kami mendapat laporan kode borobudur juga digunakan untuk membuka sebuah pintu bawah tanah di Gua Rangko dan berhasil mengeluarkan KRI Irian, kapal perang terkuat Indonesia di masa Operasi Trikora..."
Candi Borobudur
(Sumber Ilustrasi : bobo.grid.id/read/08675161/bagaimana-cara-membangun-candi-borobudur)
"omong kosong, KRI Irian sudah lama di besi tuakan, dan itu hanya mitos agar Amerika semakin mengawasi militer Indonesia, kalian Amerika terlalu paranoid terhadap kekuatan negara diluar sekutu kalian" sela Akles alias Black dengan nada merendahkan
"Black apa kamu tak merasa aneh pada saat operasi freedom, ada satu sosok kapal perang yang selalu terlihat dari jarak jauh memberikan kode bahwa mereka adalah tim operasi namun tak pernah mendekat dan membantu pada saat operasi sedang berlangsung ?" Riu memandang Akles yang wajahnya kembali terlihat gusar dan merasa merinding.
"Kolonel, maksud anda kapal perang yang jadi gosip bahwa itu adalah Ghost Ship" Yonner bertanya dengan nada seperti sedang melihat hantu
"Ya betul sekali Mayor, itu bukan kapal hantu. Itu adalah KRI Irian yang memang ditugaskan untuk melakukan penyamaran sebagai pelindung dari Operasi Freedom,"
"tapi darimana pertama kali anda tau bahwa itu adalah kapal perang legendaris Indonesia yang sudah lama menghilang, Kolonel ?"
KRI IRIAN
(Sumber Ilustrasi : web.facebook.com/MajalahMiliterOnline)
"Pada malam itu diatas kapal perang Amerika saya sedang menggunakan teropong digital yang mampu menembus kabut malam, tak sengaja kapal tersebut tertangkap oleh teropongku dan juga terdengar percakapan dari awaknya. Karena ketakutan aku menjadi gugup dan lupa menekan tombol recorder di kamera tersebut."
"apa yang mereka bicarakan kolonel ?"
"ternyata alat penyamaran mereka sedang bermasalah, kapten dan awak kapal berusaha untuk memperbaiki sembari berkata jika alat tersebut tak segera diperbaiki maka kapal tersebut akan mendapat kesulitan untuk membantu operasi Freedom."
"apakah anda yakin bahwa itu adaah KRI Irian, Kolonel ?"
"Tentu saja Kapten Raka, saya melihat nomor lambung kapal tersebut yang merupakan kode dari KRI Irian. Belakangan saya jadi tahu semua informasi intelijen berasal dari kapal hebat tersebut dan dari KRI Irian kami tahu bahwa ada pengkhianat dalam tim Operasi Freedom"
Hening kemudian, baik Riu, Yonner, dan Raka tampak berpikir. Berbeda dengan Akles yang sepertinya memiliki rencana, yaitu rencana meloloskan diri dari ruangan tersebut disaat semuanya lengah...
Bersambung Ke : GENESIS 7






Tidak ada komentar:
Posting Komentar