Kamis, 09 April 2020

Tips Menyimpan catatan Lama di Blogger Tanpa dihapus


Mungkin ada diantara kita ada yang menyimpan dokumen atau foto lama di Blog dan berkeinginan untuk tidak menampilkannya di Blog. Apakah entah alasan pribadi atau memang dokumen tersebut bersifat classified (rahasia). Dengan kata lain dokumen lama akan diarsipkan.

Tutorial singkat berikut ini adalah tutorial untuk menyimpan dokumen/foto blog lama di draft

Silahkan masuk ke email yang digunakan oleh Blog anda, kemudian cari dokumen/foto yang akan dibuat draf, Disitu judul masih tampak di postingan. Seperti Gambar berikut ini :


Setelah itu klik Edit Entri, didalam Edit Entri kita klik Kembali Ke Draf dan klik Tutup


Postingan kita sudah ditandai sebagai draf/arsip dan tentu saja tidak akan terlihat di Blog


Selamat Mencoba.

Senin, 30 Maret 2020

Genesis 07

MEDALI ZAMAN

Sang Perwira

Aku dan kamu, ada karena waktu. Waktu bukan sahabat yang baik namun bukan juga musuh yang jahat. Disaat dia Baik kita akan dipertemukan dan menikmati indahnya sebuah kebersamaan namun disaat kita berpisah waktu menjelma menjadi jahat...

Jalan Menuju Pelabuhan, Surabaya, Hindia Belanda, Tahun 1919, 11.00 AM....

Pelabuhan Zaman Dulu
(Sumber Ilustrasi : Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya tahun 1924 ; indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/2015/03/pelabuhan-tanjung-perak-surabaya-di.html?m=0)

Heroyan Kiba masih mengayuh sepeda ontelnya sambil memikirkan nasib wanita yang dikenalnya di bandara Toraja, Fezry. Roy tak sadar Setiap berpapasan dengan penduduk kebanyakan mereka memandang aneh busana yang dikenakannya. Namun demikian para penduduk yang kebanyakan masih berjalan tanpa menggunakan alas kaki memilih untuk menunduk dan memberi hormat karena mengira bahwa Roy adalah keturunan bangsawan atau setidaknya pegawai pemerintah Hindia Belanda yang pangkatnya tinggi.

Tanpa sadar putra dari Kolonel Riu ini diikuti oleh seseorang yang modelnya sperti penduduk biasa namun pada lengan kanannya terdapat tatto garis bengkok berwarna merah dan pada lehernya terbelit kain bermotif huruf M yang juga berwarna merah, sosok misterius ini sebenarnya telah mengikuti Roy sejak dari Hotel dan terus berjalan tanpa disadari keberadaannya. 

Walaupun berjalan kaki namun langkahnya cepat dan lincah, disaat Roy memperlambat laju sepedanya orang tersebut berjalan dari belakang dengan membaur dengan para penduduk, sementara itu jika Roy mempercepat laju sepeda orang tersebut mengambil jalan memotong di hutan yang sekalipun berisi pepohonan lebat namun mampu diatasi dengan gerakan memanjat dan melompat dari pohon ke pohon meniru binatang tupai. 

Tupai
(sumber Ilustrasi : bobo.grid.id/read/082006458/selain-burung-dan-
kelelawar-hewan-hewan-ini-juga-bisa-terbang-padahal-tidak-bersayap?page=all)

Menjelang mendekati pelabuhan, Roy kemudian merasakan ada yang tidak beres dengan perjalanannya. Dengan tenang Roy berhenti duduk disebuah warung nasi kecil yang sepi karena waktu belum menunjukkan makan siang. Sontak pemilik warung tersebut, bergegas menghampiri Roy dan bertanya apakah Roy ingin makan, namun Roy menggeleng dan menjelaskan dia hanya ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke pelabuhan yang sudah kelihatan dalam jarak beberapa kilometer lagi. 

"Maaf Tuan, kalau boleh tau nama tuan siapa dan asal tuan darimana ?"

"Saya dari luar kota, dapat tugas dari majikan saya untuk ke pelabuhan ini" jawab Roy sambil tersenyum

"ohh, kalau boleh tau tuan ini namanya siapa ?" tanya sang pemilik warung

"Nama Saya Roja"

"Ohh, Tuan Roja dari Batavia (Jakarta) yah ? karna mirip dengan nama Rojali teman saya sesama petani"

"Hehehe, kebetulan sekali ya. Kalau nama bapak siapa ?"

"Nama saya, Marhaen Tuan, saya masih muda dan masih lajang jadi agak tua jika saya dipanggil bapak" 

"Oh iya Marhaen, apakah disini ada menyediakan kopi ? Kebetulan saya lelah dan perlu minum secangkir kopi" dalam hati Roy tak tega melihat sang pemilik warung yang walaupun masih muda namun tubuhnya tidak segemuk dirinya, efek kerja keras mungkin kata Roy dalam hatinya.

"Ohh ada Tuan, tuan beruntung saya masih punya sedikit kopi yang kami pungut di kebun kopi." Kata-kata dipungut tentu saja membuat Roy mengerutkan kening dan bertanya-tanya. Sebab setahunya dari zaman sebelumnya kopi selamanya dipetik dan tidak dipungut seperti memungut kelapa, bahkan dizamannya Kopi dipanen oleh robot khusus mini drone yang bertugas untuk memetik kopi. 

Robot Pekerja Masa Depan
(Sumber Ilustrasi : banten88.com/detail/jutaan-pemetik-
teh-terancam-digantikan-robot/)

"Maksudnya, kopinya dipungut bagaimana yah" tanpa sadar Roy bertanya. Hal tersebut membuat sang pemilik warung tersenyum penuh arti.

"mungkin Tuan lama berada diluar Hindia Belanda, inilah nasib kami sebagai rakyat kecil disini tuan. Kami lahir di tanah kami sendiri namun kami tidak pernah menikmati apa yang menjadi hak kami dinegeri ini" 

"Kami merindukan saat-saat dimana kami bisa menikmati setiap biji kopi yang kami petik di kebun kami sendiri, kami juga rindu melihat mereka yang memerintah di Surabaya ini adalah orang yang sama dengan golongan kami, tapi entah kapan hal tersebut terjadi, sekarang harga kopi sangat tinggi dikalangan para pedagang kopi, namun kami para pemetik di kebun kopi dibayar sangat murah dan tidak diberikan makanan yang cukup padahal kami bekerja kadang dari pagi hingga malam" 

wajah Marhaen menjadi sendu dan terlihat tak bersemangat, sekalipun begitu kopi yang telah diraciknya sekarang telah berada dihadapan Roy dan siap untuk dinikmati.

"terima kasih Marhaen" Roy kemudian menikmati kopi hitam yang disediakan oleh pemilik warung. 

sambil menemani Roy meminum kopi Marhaen kembali bercerita bahwa dia sebenarnya adalah pekerja pemetik kopi di kebun seorang saudagar Belanda yang lebih sering dia sebut tuan besar sementara warung tersebut adalah usaha dari ibunya yang sekarang sedang sakit-sakitan namun karena biaya obat mahal maka ibunya hanya dirawat dirumah saja oleh adik Marhaen. Keinginan dari Marhaen sebenarnya adalah dia ingin menggarap sawah peninggalan ayahnya namun karena dia tidak memiliki cukup uang untuk membeli alat pertanian maka sawah tersebut dibiarkan tebengkalai. 

Warga Zaman Dulu
(Sumber Ilustrasi : indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com
/2013/11/warga-desa-jawa-1919.html?m=0)

Dan sebuah kekuatiran dari Marhaen adalah disaat pelabuhan Surabaya rampung di renovasi maka tentu saja warungnya disitu tidak akan diberi izin lagi oleh pemerintah untuk berjualan dikarenakan jalan kepelabuhan akan dibuat lebar sehingga dapat dilalui oleh angkutan barang ataupun angkutan militer Pemerintah.

Roy tak banyak berkomentar tentang cerita dari rakyat jelata tersebut. Dalam hati dia sebenarnya ingin sekali berkata bahwa tanggal 17 Agustus 1945 negara Hindia Belanda akan Merdeka dan menjadi Negara Indonesia namun tentu saja dia tidak boleh membicarakannya, mengingat hal tersebut akan mengacaukan sejarah. 

"oh iya Marhaen, tadi maksud dari dipungut di kebun kopi itu maksudnya apa ?" tanya Roy mengalihkan pembicaraan

"yang tuan Roja minum adalah kopi yang berasal dari perut musang, karena kami tidak boleh mengambil kopi di kebun tuan besar tapi tuan besar bolehkan kami mengambil kopi kotoran dari musang. 

Setelah kami bersihkan dan kami racik ternyata kopi tersebut tidak jauh beda dengan kopi yang selama ini diminum oleh tuan besar. Dan kopi tersebut adalah kopi yang terakhir yang saya miliki untuk dijual" kata Marhaen sambil tersenyum 

Dalam hal ini jika Marhaen tersenyum maka Roy sebaliknya, hampir saja dia menyemburkan kopi yang diminumnya begitu tahu bahwa kopi tersebut berasal dari kotoran musang. Dan untuk menutupi rasa canggungnya Roy bergegas menghabiskan kopi tersebut dan bermaksud untuk membayar.
   
"berapa harganya ?" 

"itu gratis untuk tuan"

"tidak, saya tidak mau gratis"

"tapi saya ikhlas tuan Roja"

"Marhaen, ini bayaran kopinya semoga bisa membantu dalam usaha anda"

Roy menyerahkan beberapa lembar uang Hindia Belanda kepada Marhaen,

"Tuan Roja ini banyak sekali, nanti keluarga saya curiga saya sudah mengambil uang tuan besar" 

"katakan bahwa saya yang memberikan uang ini kepada anda, anggaplah itu sebagai jawaban Tuhan atas kerja keras kamu Marhaen" paksa Roy

"Terima kasih banyak Tuan Roja, Alhamdulilah, Tuan Roja hampir mirip dengan Pak Tjokro, orangnya baik dan suka menolong"

"sama-sama Marhaen, saya permisi dulu" Roy bergegas meninggalkan warung tersebut begitu mendengar kata Tjokro, apalagi pada saat itu melintas tiga petugas Polisi yang dua orang adalah penduduk asli atau pribumi dan yang satunya adalah asli keturunan Belanda.

Roy mengambil sepedanya dan bermaksud untuk segera menuju ke pelabuhan, namun sepertinya nasib baik tak berpihak kepada Roy.

Melihat penampilan dari Roy yang berbaju gaya eropa namun berada di warung rakyat biasa mengundang kecurigaan dari Polisi Belanda yang berbadan gemuk dengan kumis yang tebal serta membawa pistol dan tongkat besi. Sementara polisi pribumi hanya membawa sangkur dan tongkat kayu sebagai senjatanya.

Dengan tongkat ditangannya sng komandan kemudian mengetok kepala salah seorang polisi pribumi meminta untuk membawa Roy kehadapannya.

Melihat hal yang tidak baik akan menimpa tuan penolongnya, Marhaen bergegas menghampiri kedua petugas yang mendatangi Roy dan menawarkan makan siang gratis agar mereka melupakan tujuan mereka untuk sesaat, namun kedua petugas tersebut lebih patuh kepada komandannya yang berkumis tebal ketimbang makanan gratis segera saja mereka berdua mendorong Marhaen agar tidak menghalangi jalan keduanya, tak menyerah dengan perilaku dari petugas polisi tersebut Marhaen kembali menghampiri petugas tersebut dengan berusaha seramah mungkin menawarkan makanan gratis kali ini makanan gratis selama seminggu di warungnya, namun lagi-lagi dorongan kasar yang diterima oleh Marhaen yang kali ini menyebabkan dia tersungkur ke tanah yang berdebu. Hal tersebut tentu saja membuat Roy menjadi terkejut dan berniat untuk menolong Marhaen, namun petugas tersebut telah dahulu menghampiri dan menahannya, kemudian dengan paksa dia dibawa ke hadapan sang komandan berkumis tebal yang telah siap dengan pistol revolver M91 ditangan.

Revolver M91
(Sumber Ilustrasi : museummiliterku.blogspot.com
/2017/10/voorschrift-betreffende-de-revolver.html)

"siapa kamu, dan dari mana asalmu ? kenapa pakaian kamu mirip orang Eropa tapi duduk minum-minum di warung inlander miskin dan kurus seperti dia ?" tanya sang komandan polisi

"saya mau ke pelabuhan Pak Polisi, saya mau survey pembangunan disana. Tadi saya haus naik sepeda dan saya istirahat di warung ini karna saya sudah lelah sekali dan hanya ada warung ini di dekat pelabuhan" kata Roy menjelaskan.

"siapa yang menyuruh kamu kesini ? kamu tahu ini adalah proyek militer pemerintah jadi tidak boleh ada yang sembarangan masuk ke pelabuhan sekarang ?" 

"saya diminta oleh Tuan Hanz orang proyek disini untuk datang, Pak Polisi. Jadi saya datang dan bermaksud untuk menenjau lokasi pembangunan di pelabuhan ini" Roy menjawab seadanya karena dia berpikir tak ada gunanya berbohong.

Mendengar nama Hanz sang polisi terkejut namun tak percaya, malah dia berkata "Tuan Hanz tidak pernah memiliki konsultan seperti kamu, kamu pasti mata-mata dari pemberontak Surabaya yang bertugas untuk mengagalkan pembangunan pelabuhan ini kan ?"

"tidak Pak Polisi, nama saya Roja dan saya ini.."

"Cukup, bawa dia ke kantor sekarang, nanti kita akan serahkan dia ke dinas Polisi Rahasia Kerajaan untuk dihukum mati" kata komandan polisi tersebut dengan sengit

"Tuan Polisi tolong lepaskan dia, dia ini orang dari sini, saya yang salah Pak Polisi karena saya yang memanggil dia untuk mampir di warung saya" Marhaen datang dan bermohon sambil berlutut dihadapan Polisi Hindia Belanda yang terlihat angkuh tersebut.

"sudah Marhaen, tidak usah membelaku tolong jangan sampai kamu tertimpa kesusahan lagi ingat ibumu kawan" Roy tak bisa melakukan apa-apa kecuali mencegah Marhaen untuk tidak mendapat perlakuan kasar dari Polisi kesekian kalinya. Perkataan tersebut membuat Marhaen menunduk sedih dan berkata "maaf tuan Roy, semoga kita bisa bertemu lagi"

Kedua polisi pribumi tersebut kemudian menggiring Roy ke kantor mereka yang agak jauh dari warung Marhaen, sementara sepedanya dibawa oleh sang komandannya yang dengan santai mengayuh sepeda tersebut hingga jauh meninggalkan mereka berdua, untungnya jalan yang mereka lalui adalah jalan yang rindang dengan pepohonan karena masih termasuk di kawasan hutan, setelah beberapa menit berjalan tampak dibawah sebuah pohon seorang dengan seragam mirip sang komandan berkumis menunggu dengan menenteng sepeda Roy, hal tersebut merupakan hal yang mengherankan bagi kedua polisi pribumi karena mereka belum pernah melihat sosok seperti itu, yang lebih mengherankan lagi komandan polisi tersebut adalah orang pribumi hal tersebut sangat jarang dijumpai di Hindia Belanda karena yang dapat menjadi komandan Polisi kebanyakan adalah orang Belanda. 

"Selamat siang, saya perwira dari dinas Polisi Rahasia Kerajaan mau mengambil orang ini untuk diinterogasi serahkan dia kepada saya sekarang" kata orang tersebut

"Maaf Perwira, tapi perintah dari komandan kami adalah membawa dia dulu ke kantor kemudian dia akan segera diserahkan ke bagian Polisi Rahasia Kerajaan untuk dihukum mati karena dia mata-mata" kata salah seorang polisi pribumi sambil memberi hormat karena melihat pangkat perwira yang ada di baju orang tersebut

"Komandan kalian tadi sudah saya beritahu dan dia sudah kembali ke kantornya, kalian bisa kembali kesana dengan nyaman tapi harus menyerahkan dia dulu kepada saya untuk saya bawa langsung ke kantor Polisi Rahasia" kata sang perwira

"maaf tapi kami harus mengikuti perintah komandan kami, izinkan kami lewat Mneer" sang polisi pribumi benar-benar berani menentang perwira di depannya dengan tegas, penolakan itu tak membuat sang perwira menjadi naik darah dan dia tetap tenang tanpa adanya ekspresi di wajahnya. Malah sang Perwira memberikan jalan kepada kedua polisi tersebut dan mengikutinya dari belakang.

Mendengar kata Polisi Rahasia, Roy memahami perwira yang dihadapinya adalah seorang agen intelijen yang setara dengan agen rahasia, CIA dari Amerika dan KGB dari Rusia sebagai contohnya.

Roy yang sempat belajar tentang intelijen selama dia pendidikan militer dan sering bertukar pikiran dengan sahabatnya dari CIA, merasa ada yang aneh dengan perwira intelijen tersebut. Mengapa seorang perwira intelijen terang-terangan menyebutkan identitasnya kepada aparat biasa dan kenapa harus ada penyerahan tahanan di tempat yang umum, biasanya cara kerja intelijen kebanyakan diusahakan ditutupi agar tidak diketahui banyak orang. Dan lagi ada yang aneh dengan pakaian dari sang perwira,  pakaian tersebut agak kebesaran dan sangat mirip dengan ukuran dari komandan berkumis yang menjadi atasan dari kedua orang polisi pribumi.

Namun tak ada sempat bagi Roy untuk berpikir lama karena dia merasa bingung bagaimana meloloskan diri dari kantor polisi Hindia Belanda, apakah dia harus menyogok Polisi lagi ataukah dia harus melakukan perlawanan sehingga dia bisa kembali ke hutan X untuk bersembunyi. 

Sementara Roy digiring ke Kantor Polisi tiba-tiba kedua polisi tersebut menjadi lemas dan tumbang disisi jalan, Roy terkejut bukan main sehingga dia juga jatuh terduduk disebelah kedua polisi yang tak sadarkan diri.

"maaf kawan, tapi sepertinya kamu juga harus tertidur" sang perwira berkata demikian sambil menempelkan setangkai bunga dihidung Roy yang dalam sekejap tak sadarkan diri


13.00 PM, Disuatu tempat yang rahasia

Byurr....

Air dingin menerpa wajah Roy yang membuatnya sadar dari tidur yang tidak dikehendakinya.

"ayo bangun" 

"apa yang kamu lakukan di zaman ini ? AYO JAWAB !!"

"apa kode mesinmu dan apa tujuanmu kemari ?"

Roy yang masih setengah sadar menjadi sadar sepenuhnya karena mendengar pertanyaan tersebut, sesaat dia mendapatkan dirinya berada didalam sebuah kotak kerangkeng (kurungan) yang berjeruji besi dan tak jauh darinya berdiri perwira Polisi Rahasia yang membawa ember yang airnya tadi disiramkan ke wajah Roy.

"apa maksud anda, saya adalah Roja konsultan dari Tuan Hanz pemimpin pembangunan pelabuhan Surabaya" jawab Roy yang tetap terduduk didalam kerangkeng

"jangan bohong, kamu adalah Sersan Heroyan Kiba, Anggota Corps IPGK. dari Abad 30. Apakah ada yang salah dari tebakan saya ?" kata sang Perwira sambil tersenyum dan membuat Roy menjadi sangat terkejut

"seharusnya kamu sudah mati Roy, tapi kamu hebat mampu bertahan di Batas Waktu dan yang membuatku kagum adalah kamu bisa lolos dari Badai Waktu. Badai Waktu adalah binatang buas yang sudah kenyang dengan korban dari hasil ciptaanku, namun kamu mampu mengecohnya dan masuk ke zaman ini. Dan kebetulan zaman ini adalah zaman tempatku untuk beristirahat setelah aku pulang bekerja dari Abad 30 namun ternyata ada seseorang yang ikut dan mengganggu istirahatku di abad ini" ...

"sekarang katakan kepadaku Roy, apa tujuanmu kemari ?" kata sang Perwira tersebut sambil menghunus pedang dan menunjukkan ke arah dada Roy yang saat itu masih sangat terkejut dengan terbongkarnya identitas dirinya.

"a-aku tersesat, a-ku tidak mau datang ke zaman ini, tolong bantulah aku kembali ke Abad 30"

"lalu dari mana kamu dapat peralatan yang canggih dan modern seperti ini ? aku tahu Abad 30 adalah abad yang canggih namun tak sembarang orang yang mampu untuk membuat alat yang kamu gunakan kecuali mereka adalah penjelajah waktu yang sudah profesional. Katakan padaku siapa yang membantumu datang ke abad ini ?" 

"aku tak tahu, aku tak sadarkan diri selama badai waktu nyaris membunuhku. Aku sudah berada disebuah hutan ketika aku sadar dan benda-benda itu sudah ada disampingku lengkap dengan petunjuk penggunaannya" Roy berusaha menutupi siapa yang telah menolongnya karna dalam pikiran Roy kemungkinan sang Perwira adalah penjahat waktu (Penjahat Waktu = pelaku tindakan kriminal yang pergi ke masa lalu atau masa depan untuk mencuri barang-barang di masa itu dan kemudian menjualnya di masanya). 

"Jangan berbohong Roy, pasti kamu menyembunyikan sesuatu, katakan SIAPA yang menolongmu menghindari badai waktu ?"

"kamu siapa dan apa tujuanmu menginterogasiku seperti seorang penjahat ? apa kamu adalah penjelajah waktu ?" Roy akhirnya dengan berani menantang interogatornya.mendengar hal tersebut sang Perwira kemudian tersenyum,

"Oh iya, perkenalkan namaku Alom (40). Aku adalah anggota dari pasukan Black Marsose, pasukan khusus yang ada sejak zaman Hindia Belanda yang ditugaskan untuk menghancurkan musuh pemerintah dengan cara kami sendiri"

"apa hubungannya marsose dan penjelajahan waktu ?" tanya Roy kepada sang perwira yang bernama Alom tersebut mendengar hal itu Alom tersenyum kemudian mengambil kunci dari meja diruangan tersebut untuk membuka kunci kerangkeng yang mengurung Roy.

"hei, rasa ingin taumu sangat besar. Dari pertanyaan yang kau sampaikan aku tau dimasa yang akan datang kamu akan menjadi apa"

"namun ingat Roy, rasa penasaran yang besar itulah yang bisa menjerumuskanmu" kata Alom sambil menarik Roy dari dalam kerangkeng 

"apa maksudmu ?" Roy makin heran dengan pernyataan dari Alom

"mari duduk, kita minum dan rencanakan masa depan bumi ini bersama"

Roy hanya menurut ketika Alom mempersilahkannya duduk dikursi yang telah disediakan, namun tidak paham dengan  maksud Alom tentang merencanakan masa depan bumi bersama

"silahkan Roy, ini adalah minuman anggur merah yang sangat disukai oleh Pemerintah Hindia Belanda saat ini


(Bersambung)

Senin, 23 Maret 2020

Genesis 06

MEDALI ZAMAN

Masa Lalu Penentu Waktu

Sudah menjadi Hukumnya apa yang dilalui hari ini adalah sejarah untuk kita, sejarah itu adalah masa lalu....

Tana Toraja, Indonesia, Abad 30, 3 jam setelah serangan peluru kendali.

Smart V-Tol atau Pesawat Pintar V-Tol Divisi Kesehatan tampak ramai beterbangan dan masing-masing menaikkan muatan korban jiwa dari serangan peluru kendali AP 1000, dan disana sini lalu lalang robot cerdas LabFor untuk mengambil sampel dari kejadian guna kepentingan investigasi. Dimasa depan Pemerintah lebih memanfaatkan kecerdasan robot untuk menangani berbagai macam hal. Mulai dari hal tentang kesehatan dan juga tentang investigasi.

Smart V-Tol yang berisi robot cerdas LabFor 
(Sumber Ilustrasi : id.pinterest.com/pin/278238083202821856/)

Sementara itu diruang komando investigasi tampak seseorang dari Penanggulangan Serangan Teroris Global sedang melaporkan kejadian yang menimpa bandara Tana Toraja kepada atasannya di Ibu Kota Indonesia,

"kami menunggu laporan anda selanjutnya Kapten Raka, terus lakukan penyelidikan siapa yang menembakkan peluru AP 1000 ke TKP dan apakah mereka Teroris atau bukan. Selidiki apakah kasus penembakan ini ada hubungannya dengan Tim dari Amerika yang menamakan diri mereka tim ekspedisi Timur. Selama ini Tana Toraja adalah tempat yang paling aman namun sejak kedatangan orang-orang asing ini seolah-olah mereka membawa sesuatu yang akan membahayakan kedaulatan kita"

"Siap Laksanakan Jenderal, saya akan terus melakukan penyelidikan sesuai dengan perintah anda" sahut Kapten Raka meyakinkan pimpinannya

"Dan ingat Kapten, jika para teroris tidak bisa diajak kerjasama, lakukan prosedur seperti yang ada dalam panduan operasi kita, Mengerti ?"

"Mengerti Pak..." Kapten Raka memberi hormat ala militer kepada hologram komandannya yang seperti sedang berhadapan secara langsung. Sesaat setelah sang kolonel membalas hormat dari Raka maka tampilan hologram tersebut menghilang dengan sendirinya.

Pesan dalam Bentuk Hologram
(Sumber Ilustrasi : ak8.picdn.net)

Kapten Raka menghela nafas, dan memandangi video 3 dimensi anak dan istrinya yang berada jauh di pulau Jawa, "aku kangen kalian" bisik Raka.

sementara itu diatas meja kerjanya tampak selembar kulit kerbau yang berisi tulisan dalam bahasa Toraja, hal baru yang ditemukannya beberapa hari sebelumnya di lokasi yang disebut titik NOL, tak ada samasekali dalam pikiran Kapten dari Tim Anti Teror Indonesia tersebut bahwa apa yang ditemukannya adalah sebuah benda sejarah yang dibutuhkan oleh tim ekspedisi Timur Corps IPGK. Benda tersebut adalah kalimat petunjuk tentang keberadaan dari Medali Zaman..

disebelah dari benda bersejarah tersebut, tampak foto para terduga teroris yang ditangkap sesaat setelah serangan berkat radar detektor yang mampu melacak arah serta pelaku penyerangan. Radar detektor sebenarnya sudah lama berada di bandara Toraja namun dirahasikan oleh pengelola yang terbukti ampuh mengecoh pelaku teror. Hal tersebut membuat para perwira tingggi antiteror di Palangkaraya, Ibukota Indonesia  memerintahkan agar Kapten Raka menginvestigasi dan membujuk mereka untuk bekerjasama dalam mengungkap siapa sebenarnya otak dari serangan tersebut.

Kapten Raka kemudian mengambil dokumen foto penangkapan teroris dan bergegas ke ruang komando investigasi. Didalam ruang komando Investigasi terdiri dari 3 ruangan, ruangan yang pertama adalah ruangan untuk meneliti serta mengambil kesimpulan dari sebuah investigasi, ruangan kedua adalah ruangan pengamatan dan yang ketiga adalah ruangan interogasi. Ruangan interogasi seperti yang terlihat difilm-film memiliki kaca satu arah yang hanya dapat dilihat oleh tim investigasi dari ruangan pengamatan. Ada 3 orang terduga teroris yang akan diinterogasi satu persatu, Yang pertama mengaku bernama Akles (30) yang mengklaim adalah pemimpin dari serangan, yang kedua Yoker (25) operator, dan yang terakhir adalah Randen (35) spesialis penembak jitu. Ketiganya telah ditahan dengan penjagaan ketat dari Detasemen Khusus antiteror gabungan Kepolisian dan TNI.

Penjaga ruangan memberi hormat kepada Raka begitu akan memasuki ruangan investigasi, didalamnya telah ada Akles yang dalam posisi terikat dengan wajahnya terlihat beberapa luka akibat interogasi keras dari tim integrator sebelumnya, hal yang sebenarnya tidak disukai oleh Kapten Raka karena dengan investigasi tersebut akan membuat para teroris semakin yakin dengan kebenaran perbuatannya.

"Halo Akles..."
Kapten Raka mulai menginterogasi Akles yang mantan anggota pasukan khusus Indonesia, sementara para tim forensik dan antiteror mengamati dari cermin dua arah di ruangan investigasi. setelah itu 1 jam kemudian adalah giliran Yoker dan Randen.

"masih tetap seperti dulu ya Raka, tetap rapi dan punya jiwa petualang"
Akles memandang Raka yang duduk dihadapannya tampak berwibawa namun berkelas dengan rambut disisir rapi dan berkilau karena pengaruh pomade.

"yah, apakah kamu ingat kita dulu pernah sama-sama memiliki janji untuk menjaga rakyat negeri ini ?" Raka memandang tajam Akles

"apa yang terjadi pada dirimu Sersan Akles ?" lanjut Raka yang ternyata adalah sahabat Akles pada saat mereka bertemu di pendidikan komando

"saya bukan Sersan Akles, Pak Integrator Raka. Dan saya bukan pelindung rakyat negeri ini. Saya adalah pelindung dari Raja Abad, dan saya akan menjadi Junta Penguasa zaman abad 20.." Akles berbicara dengan suara bergetar, membuat Raka tampak mengerutkan keningnya.
"Junta Penguasa Abad 20 ? apa maksud kamu Akles ?"
"ya Raka, sang Raja Abadi mengirimkan pesan tersebut kepada kalian jika kami tertangkap, jangan menyesal kalau keluargamu aku lenyapkan dari sejarah pada saat aku menjadi penguasa di Abad 20 silam"

Buaggh...!! tinju keras dari Raka yang menjadi emosi karna keluarganya disebut-sebut membuat tubuh akles terdorong hingga jatuh ke lantai dalam keadaan terikat, namun bukannya merasa kesakitan Akles justru tertawa mengejek dan sambil kembali mengulangi kata-katanya. Hal tersebut membuat emosi Raka semakin memuncak dan menarik tubuh Akles hingga kembali terduduk di kursi interogasi.

"ingat Akles, engkau dululah yang menolongku disaat kita tersesat di Lembah Hitam gunung Merapi dan aku hargai itu tanpa kamu aku tidak akan ada sekarang, tapi aku tidak akan membiarkan kamu untuk mencelakai keluargaku, INGAT ITU AKLES !!!" teriak Raka hingga mengagetkan tim Forensik dan antiteror yang berada diruangan kaca dua arah.

Gunung Merapi
(Sumber Ilustrasi : geomagz.geologi.esdm.go.id/harmoni-merapi/)

Bukan hanya berteriak namun Raka tampak mencabut pistolnya dan mengarahkan ke kening Akles sehingga membuat semua yang menyaksikan menjadi terkejut.

"kamu ingat pada saat pelajaran tentang interogasi kita Akles, pada saat itu kita berdiskusi dan engkau memberikan pesan padaku jika kamu menjadi teroris dan membahayakan Rakyat Indonesia maka aku punya hak untuk membunuhmu. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat yahh.." Raka tersenyum mengejek dengan senjata yang sudah siap menjebol batok kepala Akles.

"Kapten, tahan...."
"Mereka belum saatnya dieksekusi mati"
"mereka ada dibawa pengawasanku langsung, dan hidup matinya biarkan negara yang menentukan !! simpan kembali senjatamu parjurit" 

terdengar suara yang memerintahkan Raka untuk membatalkan niatnya menghabisi Akles.

"Siap, Mayor Yonner" Kapten Raka yang mengenali suara tersebut berbalik dan memberi hormat kepada perwira yang tiba-tiba hadir di ruangan tersebut, tampak Kolonel Riu dari Tim Ekspedisi Timur menemaninya.

Sebelumnya Kolonel Riu telah mengerahkan Tim Ekspedisi Timur untuk mencari Roy yang diduga berada di dekat lokasi ledakan tersebut, sambil menunggu laporan dari anak buahnya Riu diajak oleh Mayor Yonner untuk menginterogasi pelaku yang tertangkap.

"maaf Mayor, saya terbawa emosi, saya tidak terima para teroris ini membawa-bawa keluarga saya dalam masalah ini" terang Raka

"setiap manusia pasti memiliki rasa amarah Kapten, namun alangkah baiknya jika amarah tersebut mampu dibendung untuk menghindarkan kita dari masalah di hari esok" timpal Yonner sambil memandang ke arah Akles

"siap Mayor..." Raka menunduk menandakan dia paham

"Terima kasih Mayor telah menolong saya, namunpun begitu saya tetap tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Indonesia..."
kata-kata penuh kesombongan yang keluar dari mulut Akles membuat Raka dan Yonner menengok dengan tajam kearahnya, sementara itu Riu terkejut melihat wajah Akles yang walaupun terluka dapat dia kenali dengan jelas.

"kamu Akles, aku kenal kamu, nama sandi kamu : Black Mountain kan ? Apa yang terjadi denganmu Black ?" Riu kemudian mendekati Akles yang terkejut dengan kehadiran Riu.

Wajah kuatir dan gugup tampak dimata Akles sehingga memancing reaksi dari Yonner dan Raka.

"oh maaf, kenalkan Kapten, ini adalah Kolonel Riu, pimpinan dari Tim Ekspedisi Timur"
Yonner memperkenalkan Riu ke Raka

"Kolonel, kalian kenal teroris ini darimana ? apakah dia pernah bertemu anda di Amerika ?" Tanya Yonner

"Tidak, dia tidak pernah ke Amerika. Namun kami pernah bertemu 3 tahun lalu saat Pemerintah Indonesia, Rusia, Amerika, dan Australia mengadakan operasi militer rahasia di Samudera Indonesia. Saat itu pesawat induk kemanusiaan tenaga nuklir yang membawa bantuan untuk korban bencana alam di pulau bagian utara Australia, dibajak dan awak kapal tersebut merupakan warga dari keempat negara yang melakukan operasi militer ini, Operasi pembebasan tersebut diberi nama Operasi Freedom" Riu menerangkan panjang lebar

Pesawat Induk
(Sumber Ilustrasi : id.pinterest.com/pin/44050902584310961/)

"Wah, di Operasi Freedom operasi militer yang sangat rahasia namun membuat kami di BIN kagum dengan timnya jadi kamu adalah salah satu penentu kebebasan para awak Indonesia  ?" tanya Yonner kepada Akles,

"Kamu hebat, namun kenapa kamu menjadi teroris di negara ini ?" tambah Raka

"Maaf Kapten, maaf Sersan, dia memang dari Pasukan Operasi Freedom tapi dia telah menjadi yang dicurigai menjadi otak dari pembajakan tersebut.." Riu memotong pembicaraan kedua aparat Indonesia tersebut,

"Apa..? jadi maksud Kolonel, dia adalah...."

Yonner tak bisa meneruskan kata-katanya lagi, sementara Raka merasakan kebingungan yang sangat dalam jadi dia tak dapat berkata-kata lagi.

"Ya, dia adalah salah satu yang dicurigai menjadi otak dari Pembajakan Pesawat Induk tersebut, namun atas campur tangan dari seorang perwira Intelijen di Amerika nama Akles dihapus dari daftar yang dicurigai. Black Mountain dan beberapa pasukan komando Indonesia awalnya ditugaskan untuk menyusup masuk di sektor X dari pesawat Induk tersebut, namun setelah kami berkumpul dan berhasil menyelesaikan misi, pasukan yang ada dibawah pimpinannya dilaporkan tewas dan hilang hanya dia yang selamat. Dari pengakuannya sendiri dia mengatakan bahwa mereka dijebak oleh pasukan pembajak, namun ada kejanggalan dari keterangannya." kata Riu menerangkan siapa sebenarnya Akles atau Black Mountain.

"Kolonel, seharusnya waktu itu saya menghabisi nyawa anda. Anda bertiga sekarang adalah manusia lemah yang ditargetkan untuk dilenyapkan dari yang mulia Raja Abadi, sang pemimpin segala zaman.." kata Akles sambil tersenyum mengejek ketiganya.

Bugh..! Bugh..! Bugghh...! kali ini Yonner yang menjadi emosi dan melayangkan pukulan tiga kali ke wajah sang teroris. Hal tersebut menjadikan wajahnya semakin lebam dan mengeluarkan banyak darah.

Tapi bukannya meringis kesakitan, Akles malah tertawa dan mengejek,

"hajar aku sesuka hati kalian, tapi ingatlah diriku jika kalian sudah terikat dikursi kematian kalian masing-masing, Hahaha..."

"cukup, hentikan ocehanmu itu Teroris," Raka kembali menodongkan pistol di kepala Akles namun segera diangkatnya pistol tersebut karena Kolonel Riu memintanya.

"hah, inilah aparat hukum. Beraninya hanya kepada orang yang terikat, ayo hajar lagi, tunjukkan kalau kalian aparat hukum yang pantas naik pangkat hanya karna memukuli seorang teroris, Hahahahaha"...

"Black Mountain, apa maksud dari perbuatanmu ini ? apa kamu inginkan dengan meneror Bandara di Toraja ? dan apa tujuanmu merusak kedamaian di Indonesia ?" Riu mendekatkan kepalanya kepada Akles.

"Bukan urusanmu kolonel, apa hak anda menanyakan hal tersebut ? ini negara Indonesia, bukan Amerika Serikat, jangan menjadi jagoan di negeri orang kolonel"

"ini adalah tempat kelahiran nenek moyang saya, jadi saya juga berhak melindunginya. Saya memang warga Amerika anggota IPGK, yang ditugaskan kesini untuk meneliti sesuatu di kampung halamanku, kenapa justru kamu yang ada di tempat ini sekarang ? Apa rencana kamu disini Black ? Apa kamu ada hubungannya dengan apa yang kami selidiki disini ? "

sontak perkataan dari Riu membuat Black atau Akles menjadi gusar, dan hal tersebut terbaca oleh Yonner serta Raka. Raka sangat yakin serangan ini dan Titik NOL saling berhubungan yang menjadi teka teki harus dipecahkan dengan cepat sebelum keadaan menjadi lebih buruk.

"Kolonel, apa sebenarnya yang membuat anda datang kemari ? apakah ada sesuatu hal yang besar di Toraja sehingga menarik perhatian dari negara sebesar Amerika Serikat untuk mengirimkan pasukannya kemari ?" tanya Yonner

"Kami bukan pasukan dari pemerintah Amerika Mayor Yonner, kami adalah pasukan dari sebuah lembaga perdamaian yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, hanya markas kami berada di Amerika Serikat dan kami bergerak di bidang penyelidikan benda purbakala untuk perdamaian dunia. Kami dibentuk untuk menangani pencurian dan penyalahgunaan benda purbakala yang mengandung unsur mistik. Seperti yang kita tau bahwa akhir-akhir ini dunia banyak dikejutkan dengan beberapa benda purbakala yang dapat digunakan untuk mengutak atik alam semesta."

"apakah maksud Kolonel Riu benda purbakala seperti temuan ilmuan Indonesia di borobudur yang menjadi kode password Dana Revolusi Bung Karno ?" tanya Raka

Ilustrasi Dana Revolusi
(Sumber Ilustrasi : liputnusantara.blogspot.com/2016/01/lentak-dana-revolusi-soekarno-terlacak.html)

"ya betul sekali Kapten, Kami menyebutnya Kode Borobudur dan itu cukup mengejutkan dunia. karena dengan Dana Revolusi tersebut Indonesia menjadi pemimpin negara maju nomor satu di Asia. Bahkan kami mendapat laporan kode borobudur juga digunakan untuk membuka sebuah pintu bawah tanah di Gua Rangko dan berhasil mengeluarkan KRI Irian, kapal perang terkuat Indonesia di masa Operasi Trikora..."

Candi Borobudur
(Sumber Ilustrasi : bobo.grid.id/read/08675161/bagaimana-cara-membangun-candi-borobudur)

"omong kosong, KRI Irian sudah lama di besi tuakan, dan itu hanya mitos agar Amerika semakin mengawasi militer Indonesia, kalian Amerika terlalu paranoid terhadap kekuatan negara diluar sekutu kalian" sela Akles alias Black dengan nada merendahkan

"Black apa kamu tak merasa aneh pada saat operasi freedom, ada satu sosok kapal perang yang selalu terlihat dari jarak jauh memberikan kode bahwa mereka adalah tim operasi namun tak pernah mendekat dan membantu pada saat operasi sedang berlangsung ?" Riu memandang Akles yang wajahnya kembali terlihat gusar dan merasa merinding.

"Kolonel, maksud anda kapal perang yang jadi gosip bahwa itu adalah Ghost Ship" Yonner bertanya dengan nada seperti sedang melihat hantu

"Ya betul sekali Mayor, itu bukan kapal hantu. Itu adalah KRI Irian yang memang ditugaskan untuk melakukan penyamaran sebagai pelindung dari Operasi Freedom,"

"tapi darimana pertama kali anda tau bahwa itu adalah kapal perang legendaris Indonesia yang sudah lama menghilang, Kolonel ?"

KRI IRIAN
(Sumber Ilustrasi : web.facebook.com/MajalahMiliterOnline)

"Pada malam itu diatas kapal perang Amerika saya sedang menggunakan teropong digital yang mampu menembus kabut malam, tak sengaja kapal tersebut tertangkap oleh teropongku dan juga terdengar percakapan dari awaknya. Karena ketakutan aku menjadi gugup dan lupa menekan tombol recorder di kamera tersebut."

"apa yang mereka bicarakan kolonel ?"

"ternyata alat penyamaran mereka sedang bermasalah, kapten dan awak kapal berusaha untuk memperbaiki sembari berkata jika alat tersebut tak segera diperbaiki maka kapal tersebut akan mendapat kesulitan untuk membantu operasi Freedom."

"apakah anda yakin bahwa itu adaah KRI Irian, Kolonel ?"

"Tentu saja Kapten Raka, saya melihat nomor lambung kapal tersebut yang merupakan kode dari KRI Irian. Belakangan saya jadi tahu semua informasi intelijen berasal dari kapal hebat tersebut dan dari KRI Irian kami tahu bahwa ada pengkhianat dalam tim Operasi Freedom"

Hening kemudian, baik Riu, Yonner, dan Raka tampak berpikir. Berbeda dengan Akles yang sepertinya memiliki rencana, yaitu rencana meloloskan diri dari ruangan tersebut disaat semuanya lengah...

Bersambung Ke : GENESIS 7

Kamis, 20 Februari 2020

Genesis 05

MEDALI ZAMAN

Waktu yang Mempertemukan

Waktu yang mempertemukan, waktu juga yang memisahkan. Tapi bagaimanakah waktu dapat diputar agar kita dapat kembali bertemu untuk kedua kalinya ?

Menuju Hotel Simpang, Surabaya, Hindia Belanda, Abad 20, 08.00 AM...

Heroyan Kiba (Roy) telah beranjak meninggalkan Hutan X dimana itu merupakan tempat pertama kali dia didaratkan oleh sang penolong misteriusnya di dalam lorong waktu, dia telah mengubah semua peralatannya dari masa depan ke dalam bentuk buku yang memiliki tombol-tombol rahasia.

Dari kotak serbaguna peninggalan sang robot kucing, dia telah mengeluarkan pakaian, makanan untuk sarapan, serta kendaraan sepeda ontel yang memiliki tenaga surya untuk menggerakkan mesinnya jika sang pengendara sudah lelah mengayuh. 

Dalam messengernya identitas Roy pada saat itu adalah adalah Roja (30) seorang konsultan bangunan yang akan membantu pembangunan pelabuhan untuk angkatan laut Hindia Belanda, dalam pesannya tersebut dia harus menemui pimpinan dari pembangunan pelabuhan tersebut, Tuan Hanz di hotel simpang Surabaya. 

Saat menempuh jarak yang agak jauh dari hutan X, Roy kemudian mengaktifkan mesin dari sepeda ontelnya sehingga dia terlihat seperti orang mengayuh sepeda namun sebenarnya mesin bertenaga surya yang menggerakkan sepeda tersebut, Roy hanya berakting mengayuh sepeda agar masyarakat desa yang lalu lalang tidak curiga dengan sepeda Roy. 

Sepeda Ontel
(Sumber Ilustrasi : onlinebicyclemuseum.co.uk)

Umumnya masyarakat desa dekat Hutan X berprofesi sebagai petani dan kebanyakan mereka berjalan kaki sementara yang menggunakan sepeda dan naik pedati berkuda adalah orang yang memiliki darah eropa serta kaum bangsawan. 

Pada saat Roy sampai di Hotel Simpang, waktu telah menunjukkan pukul 09.00. Roy menggunakan kacamata yang fungsinya sebagai penterjemah tulisan yang terhubung dengan pena untuk mencatat bahasa yang digunakan oleh lawan bicara dan tak lupa alat penterjemah yang terpasang di leher Roy tersambung dengan alat pendengaran yang memancarkan sinyal suara untuk didengar oleh lawan bicara.Sesampainya di lobby hotel, Roy segera menemui Tuan Hanz. Hanz (40) adalah keturunan Belanda Jerman yang telah lama menetap di Hindia Belanda, Roy kemudian memperkenalkan diri sebagai konsultan dan mulai bertanya tentang tujuan pembangunan pelabuhan angkatan laut di Surabaya. 

Hanz kemudian menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya diminta oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda  untuk membangun pelabuhan tersebut guna bantuan dan supplay dari Batavia (Jakarta) jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada daerah Surabaya, walaupun hal tersebut kurang didukung oleh anggota dewan rakyat pribumi namun Gubernur tetap pada pendiriannya karena kuatir dengan pertahanan Surabaya yang akhir-akhir ini sedang rawan. Rakyat sepertinya memiliki idola baru yang merupakan pimpinan dari usaha bersama yang bernama Sarekat Islam, sang pemimpin adalah seorang orator dan pengusaha yang bernama Pak Tjokro, demikian Hanz menyebut namanya.

Kekuatiran Gubernur Jenderal bahwa jika Tjokro mampu menarik masyarakat kedalam Sarekat Islam, maka bisa saja mereka akan dijadikan pasukan pemberontak yang akan membuat Surabaya kacau balau. Untuk itulah maka perlu dibangun sebuah pelabuhan angkatan laut yang dapat mendukung gerakan militer di wilayah Surabaya.

Tanpa sadar Hanz mulai bercerita panjang lebar tentang Hindia Belanda tanpa tau siapa sebenarnya Roy, andaikan Hanz tahu siapa Roy maka pasti dahinya akan berkerut dengan banyak tanda tanya. Sepertinya Hanz pun berfikir sama dengan Gubernur Hindia Belanda karena dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya pasti akan kehilangan seluruh kekayaannya jika Surabaya dikuasai oleh para pemberontak, ketakutan terbesar Hanz adalah bagaimana jika Hindia Belanda menjadi sebuah negara yang lepas dari kontrol Kerajaan Belanda di Amsterdam,

"pasti bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar Roy, mereka akan lebih kuat dari induknya yang ada di Amsterdam, dan mereka pasti akan kaya dengan semua sumber daya alam yang  mereka miliki. Sementara kita yang dahulunya kaya akan menjadi miskin karna harta kita dijarah oleh inlander-inlander miskin itu" cerita Hanz dalam bahasa Belanda yang sangat fasih.

"Tuan Hanz, apakah tidak terlalu berlebihan berpikir bahwa suatu saat mereka akan lepas dari pemerintah di Amsterdam ?"

Roy bertanya walaupun dia tahu di masa depan bangsa yang dilecehkan oleh Hanz itu akan menjadi bangsa dan negara kuat yang bernama Indonesia, namun Roy tidak mau berbicara panjang lebar karena dia kuatir bisa menimbulkan kecurigaan dari Hanz yang sangat mendukung pemerintah.

"Tentu tidak tuan Roja, saya telah membaca buku tentang Revolusi Perancis dimana banyak rakyat yang dulu di anggap rendah namun mampu menumbangkan kekuasaan Raja Louis, hal tersebut bisa saja terjadi di Hindia Belanda ini. Maka dari itu saya minta anda membantu saya untuk membangun kekuatan laut di Surabaya dengan demikian kita bisa menghindari mimpi buruk tersebut" kata Hanz penuh harap sambil menatap mata Roy dalam-dalam.

"baik Tuan Hanz saya akan membantu, yang pertama kita harus melakukan adalah ..."

Roy kemudian menerangkan tentang model pelabuhan dan pertahanan angkatan laut untuk Surabaya. Tentu saja dengan alat topi pengetahuan teknologi pada kepala Roy yang telah disesuaikan dengan zamannya, jika tidak ada topi itu pastinya Roy tidak akan mengerti tentang bahan dan alat yang akan 
digunakan pada zaman tersebut.


Hotel Simpang Surabaya_1933
(Sumber Ilustrasi : id.pinterest.com/pin/836473330769844683)

Setelah semuanya rampung, dan matahari telah hampir tepat diatas kepala, Roy kemudian pamit dan berencana untuk menuju ke lokasi pembangunan pelabuhan. Namun Disaat dia keluar dari hotel dia tidak menemukan sepeda bermesinnya lagi di depan hotel,

" hei, siapa yang telah mengambil sepedaku ? sepertinya aku harus menyetel jam yang kubawa supaya tahu dimana sepeda itu berada" guman Roy.

Sesaat dia mengeluarkan benda yang berbentuk jam bandul yang sebenarnya adalah radar GPS yang bisa melacak benda-benda masa depan, Roy kemudian duduk dengan tenang dan bertingkah seolah dia sedang menyetel sebuah jam namun dia sedang mengaktifkan mode pencarian pada Radar GPS tersebut, didalam radar tampak posisi benda yang dicari bergerak masih tak jauh dari lokasi hotel kemudian berhenti di sebuah tempat. Roy berjalan menuju ke tempat tersebut, "pasti ada yang iseng nih" begitu pikir Roy. 

Ditempat yang dituju tampak beberapa remaja sedang memperebutkan sepeda milik Roy, hal tersebut tentu saja membuat Roy panik karena bisa saja remaja tersebut menekan tombol tersembunyi yang akan mengaktifkan mesin panel surya dan membuat sepeda akan bergerak seperti motor,

"hei itu sepedaku, kembalikan !!" teriak Roy.

Tahu bahwa sang pemilik sepeda datang, remaja-remaja tersebut terkejut dan salah satu berusaha untuk membawa lari sepedanya, kondisi Roy dan sepedanya memang agak jauh sehingga memberikan peluang bagi anak-anak tanggung tersebut untuk membawa lari barang curiannya,

"habislah aku, ditempat ini banyak pejabat-pejabat militer Hindia Belanda yang menginap bisa-bisa mereka curiga nanti dengan model sepedaku itu. bagaimana ini ? " Roy benar-benar sudah bingung,

namun dia tetap saja berlari mengejar sepedanya, anak remaja yang menaiki sepeda tersebut hanya tertawa-tawa mengejek Roy karena kelelahan mengejarnya, sementara Polisi Belanda yang kebetulan berjaga dibelakang Hotel juga hanya ikut tertawa melihat Roy yang menggunakan pakaian model Eropa tapi bermuka pribumi mati-matian mengejar sepedanya, Roy pun tak sanggup lagi mengejar dengan berputar-putar di belakang Hotel, rasa lelah dan malunya benar-benar tak tertahankan. 

Disaat sang anak eropa tersebut puas mempermainkan Roy dan hendak membawa pulang sepeda tersebut, tiba-tiba bagian depan dari sepedanya dihadang oleh sepeda dari arah yang berlawanan. Karna tak siap, dia terjatuh dan mengejutkan beberapa orang yang berada ditempat itu. Roy juga terkejut dan memandang siapa yang telah berani menjatuhkan anak eropa yang iseng itu, sang penabrak adalah seorang anak remaja Pribumi yang memakai blankon Jawa serta memiliki tatapan mata yang tajam. 

Anak Remaja Yang Menolong Roy
(Sumber Ilustrasi : membacasejarah.wordpress.com)

"hei anak Londo, ora usah ganggu orang, Minggat sana...!!" tampak ada rasa emosi pada perkataan dari sang pribumi, sampai Polisi Belanda berjalan mendekati sang remaja pribumi dan menarik lengannya dengan kasar, melihat hal tersebut Roy buru-buru mendekati Polisi Belanda dan bernegosiasi untuk membebaskan sang remaja pribumi. Saat itu di Hindia Belanda, warga negara kelas 1 adalah mereka yang keturunan Eropa asli. Menyentuh seorang warga negara kelas 1 hukuman berat resikonya, apalagi sampai berniat untuk melukai pasti penjaralah tempatnya. Demikian apa yang telah dibaca Roy di hutan X pada malam sebelumnya. Tau aturan tersebut maka Roy berusaha membebaskan sang remaja pribumi karena telah menolongnya, Roy pun telah siap andaikata mereka berdua harus kekantor Polisi Kolonial dan diminta untuk bertanggung jawab, namun semua diluar dugaan ternyata sang petugas meminta uang damai melihat pakaian Roy yang bermodel jas Eropa, Polisi tersebut yakin bahwa Roy adalah orang berduit yang bisa dimintai uang.

"dank u wel, meneer...." kata sang polisi begitu Roy memberikan beberapa lembar uang Hindia Belanda....

walau begitu dia mengambilnya dengan sembunyi-sembunyi karna takut terlihat oleh atasannya yang mungkin berada di tempat tersebut. setelah membebaskan sang remaja pribumi dari polisi Belanda, Roy kemudian mengajak sang remaja meninggalkan hotel tersebut.

"terima kasih, Pak De...." sang remaja berbicara pelan disaat dia dan Roy berjalan keluar dari lokasi hotel sambil menuntun sepeda masing-masing... 

"Hai Nak siapa namamu ? kenapa kau bersedih ?" Roy bertanya karena sang remaja tampak sedih menuntun sepeda ontelnya,

"Aku sedang sedih Pakde, Cinta aku ditolak sama orang tua teman wanitaku yang dari Belondo.." kata pemuda tersebut, Roy hanya terdiam dan mendengar sang pemuda remaja berkata,

"Tapi aku akan terus berjuang, supaya orang tuanya setuju kepadaku, besok aku akan kembali lagi kesana dengan berpakaian rapi dan bergaya seperti mereka....". Sang Pemuda mengepalkan tangannya di dada.

"Baguss...!" sambut Roy, "Orang sepertimu memang harus memiliki semangat yang pantang mundur...."

"Maju Terus Pantang Mundur" sambut sang Pemuda.

"Hey aku belum tahu siapa namamu anak muda ?"

"Namaku ??, Aku hanya orang biasa Pakde dan walaupun aku keturunan priyayi tapi kami adalah orang yang menjadi kelas bawah di Hindia Belanda ini" ungkap sang Remaja.

"tapi aku perlu tahu siapa namamu Nak" kata Roy perlahan,

"aku dulu dipanggil Kusno tapi karna saat kecil aku sakit-sakitan maka namaku diubah, Pakde panggil saja diriku : SOEKARNO...." kata sang pemuda menundukkan kepalanya sebagai tanda permisi dan berlalu dari hadapan Roy yang tidak percaya dengan penglihatannya sendiri...

"sepertinya aku telah berbicara dengan seorang tokoh sejarah yang sangat berpengaruh di Indonesia..." batin Roy.

"menurut catatan sejarah yang kubaca tentang Indonesia, negara ini terbentuk karena perjuangan para tokoh pahlawan, salah seorang tokoh pahlawan tersebut bernama Soekarno dan dia adalah Presiden pertama dari negara ini pasca proklamasi. Aku harus mencari dia, aku ingin bertanya sesuatu yang penting kepadanya" tekad Roy. 

Namun disaat dia akan mencari sosok yang bernama Soekarno tersebut, dia teringat pesan dari sang remaja berkacamata yang menolongnya dari badai waktu : 

"kakak, usahakan hindari kontak dengan tokoh-tokoh berpengaruh dalam sejarah karena terlalu sering berinteraksi dengan mereka itu akan mengubah sejarah dan akan masuk dalam tindakan kriminal. Jika terjadi demikian maka kakak bisa dikejar oleh Penjaga Waktu / Time Guardian sebagai penjahat"....

"oh iya aku hampir lupa, baiklah aku akan ke pelabuhan sekarang dan akan menyelesaikan misiku hari ini".... 

Roy kemudian naik kesepeda dan bergerak meninggalkan lokasi pembicaraannya dengan remaja Soekarno, sang Proklamator Indonesia....      

Bersambung Ke : GENESIS 6