MEDALI ZAMAN
Waktu yang Mempertemukan
Waktu yang mempertemukan, waktu juga yang memisahkan. Tapi bagaimanakah waktu dapat diputar agar kita dapat kembali bertemu untuk kedua kalinya ?
Menuju Hotel Simpang, Surabaya, Hindia Belanda, Abad 20, 08.00 AM...
Heroyan Kiba (Roy) telah beranjak meninggalkan Hutan X dimana itu merupakan tempat pertama kali dia didaratkan oleh sang penolong misteriusnya di dalam lorong waktu, dia telah mengubah semua peralatannya dari masa depan ke dalam bentuk buku yang memiliki tombol-tombol rahasia.
Dari kotak serbaguna peninggalan sang robot kucing, dia telah mengeluarkan pakaian, makanan untuk sarapan, serta kendaraan sepeda ontel yang memiliki tenaga surya untuk menggerakkan mesinnya jika sang pengendara sudah lelah mengayuh.
Dalam messengernya identitas Roy pada saat itu adalah adalah Roja (30) seorang konsultan bangunan yang akan membantu pembangunan pelabuhan untuk angkatan laut Hindia Belanda, dalam pesannya tersebut dia harus menemui pimpinan dari pembangunan pelabuhan tersebut, Tuan Hanz di hotel simpang Surabaya.
Saat menempuh jarak yang agak jauh dari hutan X, Roy kemudian mengaktifkan mesin dari sepeda ontelnya sehingga dia terlihat seperti orang mengayuh sepeda namun sebenarnya mesin bertenaga surya yang menggerakkan sepeda tersebut, Roy hanya berakting mengayuh sepeda agar masyarakat desa yang lalu lalang tidak curiga dengan sepeda Roy.
Sepeda Ontel
(Sumber Ilustrasi : onlinebicyclemuseum.co.uk)
Umumnya masyarakat desa dekat Hutan X berprofesi sebagai petani dan kebanyakan mereka berjalan kaki sementara yang menggunakan sepeda dan naik pedati berkuda adalah orang yang memiliki darah eropa serta kaum bangsawan.
Pada saat Roy sampai di Hotel Simpang, waktu telah menunjukkan pukul 09.00. Roy menggunakan kacamata yang fungsinya sebagai penterjemah tulisan yang terhubung dengan pena untuk mencatat bahasa yang digunakan oleh lawan bicara dan tak lupa alat penterjemah yang terpasang di leher Roy tersambung dengan alat pendengaran yang memancarkan sinyal suara untuk didengar oleh lawan bicara.Sesampainya di lobby hotel, Roy segera menemui Tuan Hanz. Hanz (40) adalah keturunan Belanda Jerman yang telah lama menetap di Hindia Belanda, Roy kemudian memperkenalkan diri sebagai konsultan dan mulai bertanya tentang tujuan pembangunan pelabuhan angkatan laut di Surabaya.
Hanz kemudian menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya diminta oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk membangun pelabuhan tersebut guna bantuan dan supplay dari Batavia (Jakarta) jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada daerah Surabaya, walaupun hal tersebut kurang didukung oleh anggota dewan rakyat pribumi namun Gubernur tetap pada pendiriannya karena kuatir dengan pertahanan Surabaya yang akhir-akhir ini sedang rawan. Rakyat sepertinya memiliki idola baru yang merupakan pimpinan dari usaha bersama yang bernama Sarekat Islam, sang pemimpin adalah seorang orator dan pengusaha yang bernama Pak Tjokro, demikian Hanz menyebut namanya.
Kekuatiran Gubernur Jenderal bahwa jika Tjokro mampu menarik masyarakat kedalam Sarekat Islam, maka bisa saja mereka akan dijadikan pasukan pemberontak yang akan membuat Surabaya kacau balau. Untuk itulah maka perlu dibangun sebuah pelabuhan angkatan laut yang dapat mendukung gerakan militer di wilayah Surabaya.
Tanpa sadar Hanz mulai bercerita panjang lebar tentang Hindia Belanda tanpa tau siapa sebenarnya Roy, andaikan Hanz tahu siapa Roy maka pasti dahinya akan berkerut dengan banyak tanda tanya. Sepertinya Hanz pun berfikir sama dengan Gubernur Hindia Belanda karena dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya pasti akan kehilangan seluruh kekayaannya jika Surabaya dikuasai oleh para pemberontak, ketakutan terbesar Hanz adalah bagaimana jika Hindia Belanda menjadi sebuah negara yang lepas dari kontrol Kerajaan Belanda di Amsterdam,
"pasti bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar Roy, mereka akan lebih kuat dari induknya yang ada di Amsterdam, dan mereka pasti akan kaya dengan semua sumber daya alam yang mereka miliki. Sementara kita yang dahulunya kaya akan menjadi miskin karna harta kita dijarah oleh inlander-inlander miskin itu" cerita Hanz dalam bahasa Belanda yang sangat fasih.
"Tuan Hanz, apakah tidak terlalu berlebihan berpikir bahwa suatu saat mereka akan lepas dari pemerintah di Amsterdam ?"
Roy bertanya walaupun dia tahu di masa depan bangsa yang dilecehkan oleh Hanz itu akan menjadi bangsa dan negara kuat yang bernama Indonesia, namun Roy tidak mau berbicara panjang lebar karena dia kuatir bisa menimbulkan kecurigaan dari Hanz yang sangat mendukung pemerintah.
"Tentu tidak tuan Roja, saya telah membaca buku tentang Revolusi Perancis dimana banyak rakyat yang dulu di anggap rendah namun mampu menumbangkan kekuasaan Raja Louis, hal tersebut bisa saja terjadi di Hindia Belanda ini. Maka dari itu saya minta anda membantu saya untuk membangun kekuatan laut di Surabaya dengan demikian kita bisa menghindari mimpi buruk tersebut" kata Hanz penuh harap sambil menatap mata Roy dalam-dalam.
"baik Tuan Hanz saya akan membantu, yang pertama kita harus melakukan adalah ..."
Roy kemudian menerangkan tentang model pelabuhan dan pertahanan angkatan laut untuk Surabaya. Tentu saja dengan alat topi pengetahuan teknologi pada kepala Roy yang telah disesuaikan dengan zamannya, jika tidak ada topi itu pastinya Roy tidak akan mengerti tentang bahan dan alat yang akan
Kekuatiran Gubernur Jenderal bahwa jika Tjokro mampu menarik masyarakat kedalam Sarekat Islam, maka bisa saja mereka akan dijadikan pasukan pemberontak yang akan membuat Surabaya kacau balau. Untuk itulah maka perlu dibangun sebuah pelabuhan angkatan laut yang dapat mendukung gerakan militer di wilayah Surabaya.
Tanpa sadar Hanz mulai bercerita panjang lebar tentang Hindia Belanda tanpa tau siapa sebenarnya Roy, andaikan Hanz tahu siapa Roy maka pasti dahinya akan berkerut dengan banyak tanda tanya. Sepertinya Hanz pun berfikir sama dengan Gubernur Hindia Belanda karena dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya pasti akan kehilangan seluruh kekayaannya jika Surabaya dikuasai oleh para pemberontak, ketakutan terbesar Hanz adalah bagaimana jika Hindia Belanda menjadi sebuah negara yang lepas dari kontrol Kerajaan Belanda di Amsterdam,
"pasti bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar Roy, mereka akan lebih kuat dari induknya yang ada di Amsterdam, dan mereka pasti akan kaya dengan semua sumber daya alam yang mereka miliki. Sementara kita yang dahulunya kaya akan menjadi miskin karna harta kita dijarah oleh inlander-inlander miskin itu" cerita Hanz dalam bahasa Belanda yang sangat fasih.
"Tuan Hanz, apakah tidak terlalu berlebihan berpikir bahwa suatu saat mereka akan lepas dari pemerintah di Amsterdam ?"
Roy bertanya walaupun dia tahu di masa depan bangsa yang dilecehkan oleh Hanz itu akan menjadi bangsa dan negara kuat yang bernama Indonesia, namun Roy tidak mau berbicara panjang lebar karena dia kuatir bisa menimbulkan kecurigaan dari Hanz yang sangat mendukung pemerintah.
"Tentu tidak tuan Roja, saya telah membaca buku tentang Revolusi Perancis dimana banyak rakyat yang dulu di anggap rendah namun mampu menumbangkan kekuasaan Raja Louis, hal tersebut bisa saja terjadi di Hindia Belanda ini. Maka dari itu saya minta anda membantu saya untuk membangun kekuatan laut di Surabaya dengan demikian kita bisa menghindari mimpi buruk tersebut" kata Hanz penuh harap sambil menatap mata Roy dalam-dalam.
"baik Tuan Hanz saya akan membantu, yang pertama kita harus melakukan adalah ..."
Roy kemudian menerangkan tentang model pelabuhan dan pertahanan angkatan laut untuk Surabaya. Tentu saja dengan alat topi pengetahuan teknologi pada kepala Roy yang telah disesuaikan dengan zamannya, jika tidak ada topi itu pastinya Roy tidak akan mengerti tentang bahan dan alat yang akan
digunakan pada zaman tersebut.
Hotel Simpang Surabaya_1933
(Sumber Ilustrasi : id.pinterest.com/pin/836473330769844683)
Setelah semuanya rampung, dan matahari telah hampir tepat diatas kepala, Roy kemudian pamit dan berencana untuk menuju ke lokasi pembangunan pelabuhan. Namun Disaat dia keluar dari hotel dia tidak menemukan sepeda bermesinnya lagi di depan hotel,
" hei, siapa yang telah mengambil sepedaku ? sepertinya aku harus menyetel jam yang kubawa supaya tahu dimana sepeda itu berada" guman Roy.
Sesaat dia mengeluarkan benda yang berbentuk jam bandul yang sebenarnya adalah radar GPS yang bisa melacak benda-benda masa depan, Roy kemudian duduk dengan tenang dan bertingkah seolah dia sedang menyetel sebuah jam namun dia sedang mengaktifkan mode pencarian pada Radar GPS tersebut, didalam radar tampak posisi benda yang dicari bergerak masih tak jauh dari lokasi hotel kemudian berhenti di sebuah tempat. Roy berjalan menuju ke tempat tersebut, "pasti ada yang iseng nih" begitu pikir Roy.
" hei, siapa yang telah mengambil sepedaku ? sepertinya aku harus menyetel jam yang kubawa supaya tahu dimana sepeda itu berada" guman Roy.
Sesaat dia mengeluarkan benda yang berbentuk jam bandul yang sebenarnya adalah radar GPS yang bisa melacak benda-benda masa depan, Roy kemudian duduk dengan tenang dan bertingkah seolah dia sedang menyetel sebuah jam namun dia sedang mengaktifkan mode pencarian pada Radar GPS tersebut, didalam radar tampak posisi benda yang dicari bergerak masih tak jauh dari lokasi hotel kemudian berhenti di sebuah tempat. Roy berjalan menuju ke tempat tersebut, "pasti ada yang iseng nih" begitu pikir Roy.
Ditempat yang dituju tampak beberapa remaja sedang memperebutkan sepeda milik Roy, hal tersebut tentu saja membuat Roy panik karena bisa saja remaja tersebut menekan tombol tersembunyi yang akan mengaktifkan mesin panel surya dan membuat sepeda akan bergerak seperti motor,
"hei itu sepedaku, kembalikan !!" teriak Roy.
Tahu bahwa sang pemilik sepeda datang, remaja-remaja tersebut terkejut dan salah satu berusaha untuk membawa lari sepedanya, kondisi Roy dan sepedanya memang agak jauh sehingga memberikan peluang bagi anak-anak tanggung tersebut untuk membawa lari barang curiannya,
"habislah aku, ditempat ini banyak pejabat-pejabat militer Hindia Belanda yang menginap bisa-bisa mereka curiga nanti dengan model sepedaku itu. bagaimana ini ? " Roy benar-benar sudah bingung,
namun dia tetap saja berlari mengejar sepedanya, anak remaja yang menaiki sepeda tersebut hanya tertawa-tawa mengejek Roy karena kelelahan mengejarnya, sementara Polisi Belanda yang kebetulan berjaga dibelakang Hotel juga hanya ikut tertawa melihat Roy yang menggunakan pakaian model Eropa tapi bermuka pribumi mati-matian mengejar sepedanya, Roy pun tak sanggup lagi mengejar dengan berputar-putar di belakang Hotel, rasa lelah dan malunya benar-benar tak tertahankan.
"hei itu sepedaku, kembalikan !!" teriak Roy.
Tahu bahwa sang pemilik sepeda datang, remaja-remaja tersebut terkejut dan salah satu berusaha untuk membawa lari sepedanya, kondisi Roy dan sepedanya memang agak jauh sehingga memberikan peluang bagi anak-anak tanggung tersebut untuk membawa lari barang curiannya,
"habislah aku, ditempat ini banyak pejabat-pejabat militer Hindia Belanda yang menginap bisa-bisa mereka curiga nanti dengan model sepedaku itu. bagaimana ini ? " Roy benar-benar sudah bingung,
namun dia tetap saja berlari mengejar sepedanya, anak remaja yang menaiki sepeda tersebut hanya tertawa-tawa mengejek Roy karena kelelahan mengejarnya, sementara Polisi Belanda yang kebetulan berjaga dibelakang Hotel juga hanya ikut tertawa melihat Roy yang menggunakan pakaian model Eropa tapi bermuka pribumi mati-matian mengejar sepedanya, Roy pun tak sanggup lagi mengejar dengan berputar-putar di belakang Hotel, rasa lelah dan malunya benar-benar tak tertahankan.
Disaat sang anak eropa tersebut puas mempermainkan Roy dan hendak membawa pulang sepeda tersebut, tiba-tiba bagian depan dari sepedanya dihadang oleh sepeda dari arah yang berlawanan. Karna tak siap, dia terjatuh dan mengejutkan beberapa orang yang berada ditempat itu. Roy juga terkejut dan memandang siapa yang telah berani menjatuhkan anak eropa yang iseng itu, sang penabrak adalah seorang anak remaja Pribumi yang memakai blankon Jawa serta memiliki tatapan mata yang tajam.
Anak Remaja Yang Menolong Roy
(Sumber Ilustrasi : membacasejarah.wordpress.com)
"hei anak Londo, ora usah ganggu orang, Minggat sana...!!" tampak ada rasa emosi pada perkataan dari sang pribumi, sampai Polisi Belanda berjalan mendekati sang remaja pribumi dan menarik lengannya dengan kasar, melihat hal tersebut Roy buru-buru mendekati Polisi Belanda dan bernegosiasi untuk membebaskan sang remaja pribumi. Saat itu di Hindia Belanda, warga negara kelas 1 adalah mereka yang keturunan Eropa asli. Menyentuh seorang warga negara kelas 1 hukuman berat resikonya, apalagi sampai berniat untuk melukai pasti penjaralah tempatnya. Demikian apa yang telah dibaca Roy di hutan X pada malam sebelumnya. Tau aturan tersebut maka Roy berusaha membebaskan sang remaja pribumi karena telah menolongnya, Roy pun telah siap andaikata mereka berdua harus kekantor Polisi Kolonial dan diminta untuk bertanggung jawab, namun semua diluar dugaan ternyata sang petugas meminta uang damai melihat pakaian Roy yang bermodel jas Eropa, Polisi tersebut yakin bahwa Roy adalah orang berduit yang bisa dimintai uang.
"dank u wel, meneer...." kata sang polisi begitu Roy memberikan beberapa lembar uang Hindia Belanda....
walau begitu dia mengambilnya dengan sembunyi-sembunyi karna takut terlihat oleh atasannya yang mungkin berada di tempat tersebut. setelah membebaskan sang remaja pribumi dari polisi Belanda, Roy kemudian mengajak sang remaja meninggalkan hotel tersebut.
"terima kasih, Pak De...." sang remaja berbicara pelan disaat dia dan Roy berjalan keluar dari lokasi hotel sambil menuntun sepeda masing-masing...
"dank u wel, meneer...." kata sang polisi begitu Roy memberikan beberapa lembar uang Hindia Belanda....
walau begitu dia mengambilnya dengan sembunyi-sembunyi karna takut terlihat oleh atasannya yang mungkin berada di tempat tersebut. setelah membebaskan sang remaja pribumi dari polisi Belanda, Roy kemudian mengajak sang remaja meninggalkan hotel tersebut.
"terima kasih, Pak De...." sang remaja berbicara pelan disaat dia dan Roy berjalan keluar dari lokasi hotel sambil menuntun sepeda masing-masing...
"Hai Nak siapa namamu ? kenapa kau bersedih ?" Roy bertanya karena sang remaja tampak sedih menuntun sepeda ontelnya,
"Aku sedang sedih Pakde, Cinta aku ditolak sama orang tua teman wanitaku yang dari Belondo.." kata pemuda tersebut, Roy hanya terdiam dan mendengar sang pemuda remaja berkata,
"Tapi aku akan terus berjuang, supaya orang tuanya setuju kepadaku, besok aku akan kembali lagi kesana dengan berpakaian rapi dan bergaya seperti mereka....". Sang Pemuda mengepalkan tangannya di dada.
"Baguss...!" sambut Roy, "Orang sepertimu memang harus memiliki semangat yang pantang mundur...."
"Maju Terus Pantang Mundur" sambut sang Pemuda.
"Hey aku belum tahu siapa namamu anak muda ?"
"Namaku ??, Aku hanya orang biasa Pakde dan walaupun aku keturunan priyayi tapi kami adalah orang yang menjadi kelas bawah di Hindia Belanda ini" ungkap sang Remaja.
"tapi aku perlu tahu siapa namamu Nak" kata Roy perlahan,
"aku dulu dipanggil Kusno tapi karna saat kecil aku sakit-sakitan maka namaku diubah, Pakde panggil saja diriku : SOEKARNO...." kata sang pemuda menundukkan kepalanya sebagai tanda permisi dan berlalu dari hadapan Roy yang tidak percaya dengan penglihatannya sendiri...
"Aku sedang sedih Pakde, Cinta aku ditolak sama orang tua teman wanitaku yang dari Belondo.." kata pemuda tersebut, Roy hanya terdiam dan mendengar sang pemuda remaja berkata,
"Tapi aku akan terus berjuang, supaya orang tuanya setuju kepadaku, besok aku akan kembali lagi kesana dengan berpakaian rapi dan bergaya seperti mereka....". Sang Pemuda mengepalkan tangannya di dada.
"Baguss...!" sambut Roy, "Orang sepertimu memang harus memiliki semangat yang pantang mundur...."
"Maju Terus Pantang Mundur" sambut sang Pemuda.
"Hey aku belum tahu siapa namamu anak muda ?"
"Namaku ??, Aku hanya orang biasa Pakde dan walaupun aku keturunan priyayi tapi kami adalah orang yang menjadi kelas bawah di Hindia Belanda ini" ungkap sang Remaja.
"tapi aku perlu tahu siapa namamu Nak" kata Roy perlahan,
"aku dulu dipanggil Kusno tapi karna saat kecil aku sakit-sakitan maka namaku diubah, Pakde panggil saja diriku : SOEKARNO...." kata sang pemuda menundukkan kepalanya sebagai tanda permisi dan berlalu dari hadapan Roy yang tidak percaya dengan penglihatannya sendiri...
"sepertinya aku telah berbicara dengan seorang tokoh sejarah yang sangat berpengaruh di Indonesia..." batin Roy.
"menurut catatan sejarah yang kubaca tentang Indonesia, negara ini terbentuk karena perjuangan para tokoh pahlawan, salah seorang tokoh pahlawan tersebut bernama Soekarno dan dia adalah Presiden pertama dari negara ini pasca proklamasi. Aku harus mencari dia, aku ingin bertanya sesuatu yang penting kepadanya" tekad Roy.
Namun disaat dia akan mencari sosok yang bernama Soekarno tersebut, dia teringat pesan dari sang remaja berkacamata yang menolongnya dari badai waktu :
"kakak, usahakan hindari kontak dengan tokoh-tokoh berpengaruh dalam sejarah karena terlalu sering berinteraksi dengan mereka itu akan mengubah sejarah dan akan masuk dalam tindakan kriminal. Jika terjadi demikian maka kakak bisa dikejar oleh Penjaga Waktu / Time Guardian sebagai penjahat"....
"oh iya aku hampir lupa, baiklah aku akan ke pelabuhan sekarang dan akan menyelesaikan misiku hari ini"....
Roy kemudian naik kesepeda dan bergerak meninggalkan lokasi pembicaraannya dengan remaja Soekarno, sang Proklamator Indonesia....



Tidak ada komentar:
Posting Komentar